JurnalLugas.Com – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memimpin rapat kebijakan khusus terkait konflik Gaza di Gedung Putih, Rabu (27/8/2025). Pertemuan itu melibatkan mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair dan mantan penasihat Timur Tengah AS, Jared Kushner.
Seorang pejabat senior Gedung Putih menuturkan, agenda pembahasan mencakup sejumlah isu mendesak, mulai dari distribusi bantuan pangan, krisis sandera, hingga skenario politik pascaperang. Menurutnya, forum tersebut digambarkan sebagai pertemuan kebijakan reguler yang kerap dilakukan Trump bersama tim inti.
Kushner dan Blair Kembali di Lingkaran Diplomasi
Keterlibatan Kushner, yang juga menantu Trump sekaligus arsitek strategi Timur Tengah pada periode pertama kepresidenan, dinilai menunjukkan kembalinya figur lama dalam menyusun arah kebijakan luar negeri Washington. Sementara itu, Blair yang pernah menjadi perdana menteri saat invasi Irak 2003, kembali aktif berperan sebagai mediator internasional di kawasan konflik.
Seorang pejabat yang dekat dengan pembahasan menyebut, “Trump ingin mendengar perspektif beragam, termasuk dari tokoh-tokoh yang punya pengalaman panjang dalam diplomasi Timur Tengah.”
Rencana Komprehensif Pascaperang
Utusan khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, sebelumnya mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa rapat itu bertujuan merancang “peta jalan komprehensif untuk hari setelah perang di Gaza.” Ia menekankan bahwa pendekatan tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan sisi humaniter pemerintahan Trump.
Meski begitu, tantangan diplomasi masih besar. Janji Trump dalam kampanye presidennya untuk mengakhiri perang Gaza dengan cepat hingga kini belum terwujud. Memasuki tujuh bulan masa jabatan kedua, konflik justru terus berlanjut tanpa tanda-tanda resolusi.
Kritik Global terhadap Situasi Kemanusiaan
Masa jabatan kedua Trump diawali dengan gencatan senjata dua bulan. Namun, serangan Israel pada 18 Maret lalu yang menewaskan sekitar 400 warga Palestina kembali memicu eskalasi.
Belakangan, gambar anak-anak kelaparan di Gaza yang beredar luas di media sosial memperburuk sorotan internasional terhadap Israel. Banyak pihak menuding kondisi kemanusiaan kian memburuk dan menuntut langkah nyata dari Washington.
“Presiden sangat tegas bahwa ia ingin perang ini segera berakhir. Ia berharap kawasan bisa merasakan perdamaian dan kemakmuran,” kata pejabat Gedung Putih lainnya. Namun, ia menambahkan bahwa belum ada detail tambahan terkait hasil rapat yang bisa dipublikasikan.
Hingga kini, skenario penyelesaian konflik Gaza masih penuh ketidakpastian. Meski Washington berusaha menunjukkan peran aktif dalam diplomasi, sejumlah analis menilai tanpa tekanan konkret kepada Israel maupun Hamas, upaya menuju perdamaian hanya akan berjalan di tempat.
Rapat di Gedung Putih yang melibatkan Blair dan Kushner dianggap sebagai sinyal bahwa Trump mencoba membangun kembali jalur diplomasi dengan melibatkan figur lama yang pernah berpengaruh di kawasan. Namun, apakah strategi ini mampu mengubah peta konflik Gaza, masih menjadi tanda tanya besar.
Untuk berita politik dan internasional selengkapnya, kunjungi JurnalLugas.Com.






