Donald Trump Ancam Negara BRICS Tegas China Gunakan Mata Uang Ini

JurnalLugas.Com – Pemerintah China dengan tegas merespons ancaman Presiden terpilih Amerika Serikat, Donald Trump, yang menyatakan akan mengenakan tarif 100 persen kepada negara-negara anggota BRICS jika mereka melanjutkan rencana menggunakan mata uang alternatif selain dolar AS. Pernyataan ini menimbulkan ketegangan baru dalam hubungan diplomatik dan ekonomi antara Amerika Serikat dengan negara-negara BRICS.

Posisi China dalam Kerja Sama BRICS

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menegaskan bahwa tujuan utama BRICS adalah memperjuangkan keterbukaan, inklusivitas, dan kerja sama saling menguntungkan tanpa menciptakan konfrontasi dengan pihak ketiga.

Bacaan Lainnya

“Sebagai platform kerja sama penting bagi pasar negara berkembang, BRICS tidak menargetkan siapa pun,” ujar Lin Jian pada Selasa, 3 Desember 2024. Ia menambahkan bahwa China tetap berkomitmen memperdalam kolaborasi dengan anggota BRICS demi pembangunan dan kemakmuran bersama.

Ancaman Donald Trump dan Implikasinya

Dalam unggahan di media sosialnya, Truth Social, Trump menyatakan bahwa gagasan negara-negara BRICS untuk menjauh dari dolar AS adalah sesuatu yang tidak dapat diterima.

Baca Juga  AS Kembali Tekan Iran, Trump Jatuhkan Sanksi Baru ke Armada Bayangan Minyak

“Kita memerlukan komitmen bahwa mereka tidak akan menciptakan mata uang baru atau mendukung mata uang alternatif yang dapat menggantikan dolar AS,” ujar Trump. Ia memperingatkan bahwa jika negara-negara BRICS melanjutkan rencana tersebut, mereka akan menghadapi tarif 100 persen dan kehilangan akses pasar ke perekonomian Amerika Serikat.

Peran Strategis BRICS dalam Ekonomi Global

Sejak didirikan pada 2009, BRICS—yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan—telah berkembang menjadi kekuatan ekonomi yang signifikan. Blok ini memperluas keanggotaannya pada 2023 dengan masuknya Iran, Mesir, Ethiopia, dan Uni Emirat Arab. Meskipun begitu, nama BRICS tetap dipertahankan.

Langkah BRICS untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS menjadi sorotan, terutama dalam konteks perdagangan internasional. Blok ini bertujuan menggunakan mata uang lokal masing-masing untuk mengurangi dominasi dolar dalam transaksi perdagangan global.

BRICS memiliki pengaruh besar dengan populasi yang mencakup 43 persen dari total penduduk dunia, nilai perdagangan global mencapai 16 persen, serta kontribusi sebesar 25 persen terhadap ekonomi dunia.

Dinamika Kepemimpinan BRICS di 2024

Rusia, yang menjadi ketua BRICS sejak Januari 2024, memimpin kelompok ini untuk memperkuat kerja sama antaranggota. Selain itu, beberapa negara, termasuk Indonesia, telah menyatakan minat untuk bergabung dengan BRICS.

Baca Juga  Trump AS Siap Perang dengan Venezuela, Kapal Minyak Maduro Disita

Arab Saudi, meskipun belum meresmikan keanggotaan, telah aktif berpartisipasi dalam pertemuan BRICS. Hal ini mencerminkan daya tarik kelompok ini sebagai platform strategis dalam menghadapi tantangan global.

Langkah BRICS untuk menurunkan dominasi dolar AS dalam perdagangan global menjadi tantangan serius bagi Amerika Serikat. Ancaman tarif 100 persen yang dilontarkan Donald Trump hanya memperkeruh hubungan antara AS dan negara-negara BRICS.

Namun, China tetap optimis bahwa kerja sama antaranggota BRICS dapat berkontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi global yang lebih stabil dan berkelanjutan. Keberhasilan BRICS dalam menciptakan keseimbangan baru di arena perdagangan internasional akan bergantung pada kemampuan mereka menjaga solidaritas dan komitmen terhadap tujuan bersama.

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait