170 Starbucks Tutup di AS Starbucks Workers United Tuntut Ini

JurnalLugas.Com – Serikat pekerja barista Starbucks Corp mengadakan pemogokan besar-besaran yang menyebabkan penutupan sekitar 170 kafe di seluruh Amerika Serikat. Aksi ini terjadi pada saat yang sangat strategis, yakni hari-hari terakhir musim belanja liburan, yang merupakan salah satu periode tersibuk bagi Starbucks.

Dampak Pemogokan

Starbucks Workers United, organisasi serikat pekerja yang menaungi barista, memperkirakan bahwa dampak dari aksi ini dapat meluas hingga 300 lokasi, meskipun angka tersebut belum terkonfirmasi hingga malam Natal. Lebih dari 5.000 pekerja dari berbagai kota, seperti Boston, New York, dan Philadelphia, ikut serta dalam aksi mogok yang dimulai sejak 20 Desember 2024.

Bacaan Lainnya

Aksi ini mendapatkan dukungan dari beberapa tokoh penting, termasuk Wali Kota Pittsburgh, Ed Gainey, yang bergabung dengan para pekerja dalam unjuk rasa sebelumnya. Pemogokan ini bertujuan mendesak perusahaan untuk memberikan penawaran yang lebih baik terkait upah, jam kerja, dan kondisi kerja.

Baca Juga  Starboard Value Akuisisi Saham Starbucks Corp Reaksi Pasar Melonjak

Layanan Starbucks Terganggu

Menurut pernyataan resmi dari perusahaan, sekitar 170 toko tidak beroperasi sesuai rencana. Namun, 98% dari lebih dari 10.000 gerai Starbucks tetap buka, meskipun layanan di beberapa lokasi terganggu. Para barista direncanakan kembali bekerja pada 25 atau 26 Desember 2024, dengan kesiapan melanjutkan negosiasi.

Alasan Pemogokan

Starbucks Workers United mengungkapkan bahwa pemogokan ini dipicu oleh kebuntuan dalam negosiasi terkait kenaikan gaji dan tunjangan lainnya. Perusahaan dianggap tidak memberikan paket penawaran yang cukup memadai, terutama dalam hal kenaikan gaji segera bagi para anggotanya.

Perselisihan antara karyawan dan perusahaan telah berlangsung sejak Desember 2021, ketika toko pertama mulai mengorganisir serikat untuk memperjuangkan hak-hak pekerja. Meskipun Starbucks menyatakan telah meningkatkan pengalaman pekerja dan menawarkan gaji rata-rata hingga US$30 per jam, serikat pekerja menilai bahwa hal tersebut belum mencukupi untuk menjawab kebutuhan pekerja.

Respons dari Starbucks

Starbucks, di bawah kepemimpinan CEO baru Brian Niccol, berjanji untuk melanjutkan negosiasi dengan itikad baik. Namun, hingga saat ini, ketegangan antara serikat pekerja dan manajemen masih berlangsung. Brian Niccol, yang bergabung pada September 2024, diharapkan dapat membawa perubahan signifikan bagi perusahaan, meskipun tantangan seperti pemogokan ini menunjukkan masih adanya masalah mendasar yang perlu diselesaikan.

Baca Juga  Megawati Kafe Berjamur Tempat Narkoba ini Kata Mantan Gubernur Bali Wayan Koster

Aksi mogok ini tidak hanya berdampak pada operasional Starbucks, tetapi juga menunjukkan pentingnya perhatian terhadap kesejahteraan pekerja di sektor jasa, terutama di tengah tekanan ekonomi dan tuntutan pasar yang semakin tinggi.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai isu-isu ketenagakerjaan dan berita terkait bisnis, kunjungi JurnalLugas.Com.

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait