JurnalLugas.Com – Sayap militer dari Gerakan Jihad Islam, Brigade Al Quds, mengungkapkan bahwa mereka telah mengambil langkah-langkah strategis untuk menanggapi tindakan zionis Israel yang menghalangi kembalinya warga Palestina yang dipaksa mengungsi dari Gaza selatan ke wilayah utara.
Dalam sebuah pernyataan resmi yang dirilis pada Minggu, 26 Januari 2025, mereka menegaskan bahwa pihak mediator seperti Qatar dan Mesir telah menerima jaminan mengenai kondisi sandera warga Israel, Arbel Yehud.
“Para mediator telah menerima jaminan yang memastikan bahwa sandera warga Zionis, Arbel Yehud, masih hidup dan dalam keadaan sehat,” ujar Brigade Al Quds. Mereka juga menyampaikan bahwa waktu dan kesepakatan terkait pembebasan sandera akan ditentukan oleh pimpinan politik gerakan melalui perantara.
Lebih lanjut, Brigade Al Quds menuding Israel sengaja mengganggu kehidupan rakyat Palestina dan mencabut kebahagiaan mereka. “Kami telah mengambil langkah-langkah penting untuk menghapus dalih yang dibuat oleh musuh untuk menghalangi kembalinya rakyat kami ke Gaza utara,” demikian pernyataan yang disampaikan melalui platform Telegram.
Larangan Kembali ke Gaza Utara
Israel sebelumnya melarang warga Palestina kembali ke Gaza utara hingga Arbel Yehud dibebaskan. Namun, kelompok Hamas menyatakan bahwa sandera sipil akan dibebaskan melalui proses pertukaran sandera dan tahanan pada tahap berikutnya.
Tahap pertama dari perjanjian gencatan senjata yang berlangsung selama enam minggu dimulai pada 19 Januari. Gencatan senjata ini sementara menghentikan aksi kekerasan yang telah menewaskan lebih dari 47.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 111.000 lainnya sejak awal konflik pada 7 Oktober 2023.
Krisis Kemanusiaan dan Pertukaran Tahanan
Sejauh ini, tujuh tawanan Israel, termasuk empat tentara, telah dibebaskan sebagai imbalan atas pembebasan 290 tahanan Palestina sejak perjanjian gencatan senjata mulai berlaku. Serangan Israel yang berkepanjangan juga menyebabkan lebih dari 11.000 orang hilang dan menghancurkan infrastruktur Gaza secara masif.
Situasi ini telah menciptakan salah satu bencana kemanusiaan terburuk, merenggut nyawa ribuan anak-anak dan orang tua, serta mengakibatkan krisis kemanusiaan global.
Untuk informasi lebih lengkap terkait isu internasional dan konflik Palestina, kunjungi JurnalLugas.Com.






