OpenAI Tuduh DeepSeek China atas Pencurian Data AI

JurnalLugas.ComPersaingan dalam industri kecerdasan buatan (AI) semakin memanas. OpenAI, raksasa AI asal Amerika Serikat, menuduh DeepSeek pemain baru dari China melakukan pencurian data dalam pengembangan model kecerdasan buatan mereka.

DeepSeek Mengejutkan Pasar Teknologi

DeepSeek baru-baru ini meluncurkan Large Language Model (LLM) yang sangat efisien dan berbiaya rendah. Langkah ini mengejutkan banyak pihak di Wall Street dan Silicon Valley, hingga menyebabkan saham Nvidia perusahaan produsen chip terbesar di dunia mengalami penurunan tajam.

Bacaan Lainnya

Sebagai pemimpin industri AI global, OpenAI telah lama mendominasi pasar dengan produknya seperti ChatGPT. Namun, munculnya pesaing baru dari China semakin memperketat kompetisi dalam pengembangan teknologi AI canggih.

Baca Juga  OpenAI Pasang Target Pendapatan Rp4.700 Triliun 2030, Era Baru Monetisasi AI Dimulai

OpenAI: DeepSeek Gunakan Taktik Distilasi Secara Ilegal

OpenAI menuduh bahwa beberapa perusahaan China berupaya mengejar ketertinggalan dalam pengembangan AI dengan menggunakan metode distilasi. Teknik ini melibatkan pelatihan model AI baru menggunakan data yang dihasilkan oleh model AI lain.

“Kami menyadari dan sedang meninjau indikasi bahwa DeepSeek mungkin telah melakukan distilasi menggunakan model kami secara tidak tepat,” kata OpenAI dalam pernyataan resminya.

Meskipun taktik distilasi sering kali dilarang dalam ketentuan layanan pengembang AI, metode ini tetap menjadi praktik umum dalam industri. Hingga saat ini, DeepSeek belum memberikan tanggapan terkait tuduhan dari OpenAI.

Ironi: OpenAI Juga Dituduh Mencuri Data

Di tengah tuduhan terhadap DeepSeek, OpenAI sendiri juga menghadapi berbagai tuntutan hukum terkait cara mereka membangun ChatGPT. Salah satu tuntutan terbesar datang dari The New York Times, yang menuduh OpenAI menggunakan jutaan artikel berita mereka tanpa izin untuk melatih model AI-nya.

Baca Juga  Geely dan DeepSeek Integrasikan AI ke Mobil Pintar

Persaingan antara perusahaan AI global ini menggarisbawahi tantangan besar dalam industri kecerdasan buatan: bagaimana mengembangkan teknologi canggih tanpa melanggar hak cipta dan etika dalam pengumpulan data.

Untuk berita lebih lanjut, kunjungi: JurnalLugas.Com.

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait