JurnalLugas.Com – Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi, menegaskan pentingnya meningkatkan produksi pangan dalam negeri sebagai respons atas kebijakan tarif dagang yang diberlakukan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Arief menyampaikan bahwa kebijakan tarif tinggi yang kini diterapkan oleh AS terhadap sejumlah mitra dagang, termasuk Indonesia, menjadi peringatan serius untuk segera memperkuat ketahanan pangan nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap impor.
“Ketika nilai tukar rupiah melemah dan harga pangan dunia tinggi, serta banyak negara menerapkan tarif tinggi, ini saatnya kita genjot produksi pangan lokal,” ujar Arief kepada awak media, Kamis (3/4/2025).
Tarif Timbal Balik AS Ancam Ekonomi Pangan Indonesia
Kebijakan terbaru dari pemerintahan Trump menetapkan tarif timbal balik terhadap 60 negara, di mana Indonesia menjadi salah satu target utama dengan bea masuk sebesar 32 persen. Data Gedung Putih menyebutkan Indonesia berada di posisi kedelapan dalam daftar negara yang dikenakan tarif.
Tarif-tarif tersebut diumumkan dalam acara bertajuk “Make America Wealthy Again” di Rose Garden, Gedung Putih, Rabu waktu setempat. Penerapan tarif universal dijadwalkan mulai berlaku Sabtu (5/4), sementara tarif timbal balik akan efektif mulai Rabu (9/4).
Selain Indonesia, negara-negara ASEAN lain seperti Malaysia (24%), Kamboja (49%), Vietnam (46%), dan Thailand (36%) juga ikut terdampak.
Strategi Bapanas: Perkuat Cadangan dan Teknologi Penyimpanan
Untuk menghadapi tekanan global tersebut, Arief menegaskan bahwa pemerintah harus memperkuat Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) sebagai alat stabilisasi harga.
“Saya sudah berkali-kali sampaikan soal pentingnya CPP. Ini jadi alat intervensi jika harga melonjak tinggi di suatu daerah,” ungkapnya.
Ia mencontohkan langkah strategis seperti membeli produk unggas ketika harga sedang turun, lalu menyimpannya dalam bentuk beku menggunakan teknologi cold storage.
“Misalnya harga live bird atau karkas rendah, kita beli dengan harga wajar, kemudian dibekukan dengan airbrush freezer dan simpan dalam kondisi frozen,” jelas Arief.
Produk tersebut nantinya bisa disalurkan ke wilayah-wilayah yang mengalami kekurangan pasokan atau lonjakan harga, seperti kawasan Indonesia Timur. Dengan demikian, stabilitas harga bisa tetap terjaga.
Fokus pada Teknologi Perpanjangan Masa Simpan
Selain memperkuat cadangan pangan, Bapanas juga tengah fokus pada pencarian teknologi penyimpanan yang mampu memperpanjang masa simpan (safe life) produk pangan.
“PR kita selanjutnya adalah mencari teknologi untuk memperpanjang masa simpan. Ini penting untuk menjaga kualitas produk selama proses distribusi,” katanya.
Langkah-langkah tersebut, menurut Arief, adalah bentuk transformasi sistem pangan nasional yang berorientasi pada keberlanjutan dan ketahanan jangka panjang.
Mandiri Pangan, Mandiri Bangsa
Dengan tekanan global yang semakin kuat, terutama dari kebijakan proteksionis seperti yang dilakukan AS, Arief menekankan bahwa Indonesia harus menjadikan momen ini sebagai titik balik untuk membangun kemandirian pangan.
“Kita tidak bisa terus-menerus tergantung impor. Ini waktunya untuk mandiri. Kita punya potensi besar untuk itu,” tutup Arief.
Kebijakan perdagangan AS ini diprediksi akan memicu ketegangan baru dalam hubungan dagang global. Namun bagi Indonesia, hal ini justru menjadi peluang untuk memperkuat sektor pangan dan mengurangi ketergantungan terhadap pasar luar negeri.
Untuk informasi terkini seputar isu pangan nasional dan kebijakan strategis lainnya, kunjungi JurnalLugas.Com






