JurnalLugas.Com – Presiden China, Xi Jinping, mengajak Vietnam untuk memperkuat kerja sama dalam menghadapi tekanan tarif impor yang diberlakukan oleh Amerika Serikat (AS). Ajakan ini disampaikan dalam kunjungannya ke Vietnam pada tanggal 14–15 April 2025.
Dalam lawatannya, Xi Jinping bertemu dengan sejumlah pemimpin penting Vietnam, termasuk Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam, To Lam, dan Perdana Menteri Pham Minh Chinh. Fokus utama pertemuan tersebut adalah mempererat hubungan bilateral dan membangun aliansi strategis di tengah meningkatnya ketegangan dagang global.
Presiden Xi secara tegas mengecam kebijakan tarif AS yang ia anggap sebagai bentuk intimidasi ekonomi. “China dan Vietnam perlu bersama-sama menolak hegemonisme, unilateralisme, serta proteksionisme,” kata Xi seperti dikutip dari Kantor Berita Xinhua.
Penandatanganan 45 Kesepakatan Strategis
Dalam kunjungan tersebut, kedua negara menandatangani sebanyak 45 perjanjian kerja sama yang mencakup berbagai sektor strategis. Beberapa bidang utama yang menjadi fokus adalah:
- Penguatan rantai pasokan regional
- Pengembangan infrastruktur bersama
- Kolaborasi dalam teknologi kecerdasan buatan (AI)
Langkah ini menunjukkan keseriusan kedua negara dalam memperkuat posisi ekonomi di tengah perubahan lanskap perdagangan global.
Tekanan Tarif dari AS
Negara-negara di kawasan Asia Tenggara saat ini menghadapi pungutan tarif ekspor ke AS yang bervariasi antara 10 hingga 49 persen, meskipun telah diberikan masa tenggang selama 90 hari sejak pekan lalu. Sementara itu, produk ekspor dari China dikenakan tarif yang jauh lebih tinggi, yakni mencapai 145 persen.
Situasi ini mendorong negara-negara di kawasan Asia untuk mencari solusi bersama, termasuk memperkuat kerja sama regional demi mempertahankan sistem perdagangan yang adil dan terbuka.
Agenda Xi Selanjutnya
Usai menyelesaikan kunjungannya di Vietnam, Presiden Xi Jinping dijadwalkan melanjutkan perjalanan ke Malaysia, dan akan berkunjung ke Kamboja pada akhir pekan ini. Langkah diplomatik ini menjadi bagian dari strategi China untuk mempererat hubungan dengan negara-negara tetangga di Asia Tenggara.
Untuk informasi lebih lengkap seputar berita internasional dan ekonomi global, kunjungi:
👉 JurnalLugas.Com






