JurnalLugas.Com – Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) kembali mencuri perhatian pelaku pasar pada perdagangan Selasa, 15 April 2025. Pergerakan positif ini dipicu oleh aksi akumulasi investor asing serta kinerja keuangan yang solid, menjadikan ANTM sebagai salah satu primadona di sektor tambang saat ini.
Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pukul 10.12 WIB, harga saham ANTM mengalami lonjakan 5,46% dan menetap di level Rp1.930 per saham. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp252,8 miliar dengan volume perdagangan sebanyak 131,3 juta lembar saham. Kenaikan signifikan ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap prospek bisnis Antam ke depan.
Laporan Keuangan Antam Jadi Motor Penggerak Saham
Michael Yeoh, analis pasar modal, menyebutkan bahwa lonjakan saham ANTM tak lepas dari rilis laporan keuangan tahunan yang mencerminkan performa sangat impresif.
“Antam adalah salah satu emiten tambang yang kuat dalam lini bisnis emas. Ini tentu menjadi daya tarik tersendiri di tengah fluktuasi harga komoditas global,” ujar Michael.
Laba bersih Antam sepanjang tahun 2024 tercatat sebesar Rp3,85 triliun, naik 25% dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka Rp3,08 triliun. Pencapaian ini tidak hanya menguatkan fundamental perusahaan, tapi juga mempertegas posisi Antam sebagai pemain utama dalam industri pertambangan nasional.
Pendapatan Tertinggi Sepanjang Sejarah
Syarif Faisal Alkadrie, Sekretaris Perusahaan Antam, mengungkapkan bahwa total pendapatan perusahaan mencapai Rp69,19 triliun sepanjang 2024 menjadi rekor tertinggi dalam sejarah Antam. Seiring itu, EBITDA (Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization) juga mengalami pertumbuhan 3%, dari Rp6,55 triliun menjadi Rp6,73 triliun.
“Pertumbuhan ini menunjukkan kekuatan Antam dalam menghadapi tekanan regulasi serta ketidakpastian global yang masih berlanjut hingga tahun lalu,” jelas Syarif.
Efisiensi Biaya Dorong Laba Usaha
Antam juga mencatat laba usaha sebesar Rp3 triliun atau naik 15% secara tahunan, didorong oleh kenaikan pendapatan dan efisiensi operasional. Beban usaha menurun sekitar 5% menjadi Rp3,5 triliun, yang sebagian besar berasal dari penurunan biaya logistik dan asuransi.
Syarif menambahkan bahwa efisiensi ini menjadi kunci penting, terutama di tengah tantangan penurunan penjualan nikel dan bauksit akibat kendala perizinan pada 2024.
Dengan laporan keuangan yang solid, efisiensi yang terjaga, serta minat tinggi dari investor asing, saham ANTM memiliki prospek cerah dalam jangka menengah hingga panjang. Jika tren positif ini berlanjut, bukan tidak mungkin ANTM akan terus menjadi incaran utama para investor di sektor pertambangan.
Untuk update pasar modal dan berita bisnis terkini lainnya, kunjungi JurnalLugas.Com.






