Ali Shamkhani Iran Siap Damai Nuklir dengan AS Jika Sanksi Dicabut

JurnalLugas.Com — Dalam pernyataan mengejutkan pada Rabu, 14 Mei 2025, penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Shamkhani, menyatakan bahwa Iran siap menandatangani perjanjian nuklir dengan Amerika Serikat jika semua sanksi ekonomi yang membebani negara tersebut dicabut sepenuhnya.

Shamkhani menegaskan komitmen Teheran terhadap prinsip non-proliferasi, dengan menyebut bahwa Iran tidak akan memproduksi senjata nuklir. Sebaliknya, Iran bersedia membatasi pengayaan uranium hanya sampai tingkat rendah yang sesuai untuk keperluan sipil, seperti pembangkit listrik dan riset medis.

Bacaan Lainnya

Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa Iran siap memberikan akses penuh kepada pengawas internasional guna memastikan proses pengayaan uranium berjalan sesuai aturan, selama sanksi ekonomi terhadap negara tersebut dihapuskan.

“Kami siap menandatangani perjanjian pada hari yang sama dengan pencabutan sanksi, jika persyaratan kami dipenuhi,” kata Shamkhani dalam konferensi pers yang dikutip oleh media Iran.

Proses Diplomasi yang Penuh Tantangan

Pernyataan ini muncul hanya beberapa hari setelah putaran keempat perundingan tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat berlangsung di Oman pada Minggu, 11 Mei 2025. Dialog ini merupakan bagian dari upaya mencari solusi damai atas program nuklir Iran yang selama ini menjadi sumber ketegangan global.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengakui bahwa perundingan berjalan dalam suasana sulit, tetapi tetap memberikan ruang untuk saling memahami posisi dan mencari jalan keluar yang masuk akal atas perbedaan yang ada.

Sebelumnya, perundingan serupa telah dilakukan pada tiga kesempatan lainnya. Putaran pertama dan ketiga diadakan di Muscat pada 12 dan 26 April, sementara putaran kedua digelar di Roma pada 19 April.

Tawaran dan Ancaman dari AS

Perundingan ini merupakan tindak lanjut dari surat yang dikirim Presiden AS Donald Trump kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada awal Maret lalu. Dalam surat tersebut, Trump menawarkan kesepakatan nuklir baru yang disertai peringatan keras bahwa jalur militer akan ditempuh jika diplomasi gagal.

Menanggapi surat tersebut, Iran menolak perundingan langsung, namun menyatakan kesediaannya untuk melanjutkan dialog secara tidak langsung melalui mediator.

Situasi ini menjadi ujian besar bagi diplomasi internasional dan masa depan stabilitas kawasan Timur Tengah. Jika sanksi benar-benar dicabut dan kesepakatan tercapai, maka ini bisa menjadi babak baru dalam hubungan antara Washington dan Teheran, yang selama ini penuh dengan ketegangan.

Untuk berita politik dan internasional terkini lainnya, kunjungi JurnalLugas.Com.

Tombol Google News - JurnalLugas
Baca Juga  Trump Mulai Putus Asa, Dilema Konflik Iran Semakin Panjang, AS Tertekan

Pos terkait