JurnalLugas.Com — Di tengah memanasnya situasi geopolitik global yang mulai berdampak pada kenaikan harga energi dan bahan baku, PT Fore Kopi Indonesia Tbk (FORE) memastikan belum akan menaikkan harga produk mereka sepanjang 2026. Keputusan ini diambil untuk menjaga daya beli konsumen sekaligus mempertahankan pertumbuhan bisnis di tengah tekanan ekonomi global.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah, khususnya terkait penutupan jalur strategis Selat Hormuz, disebut mulai memicu lonjakan harga bahan bakar dunia. Dampaknya turut dirasakan sejumlah pelaku industri makanan dan minuman di Indonesia, termasuk sektor kopi modern yang bergantung pada distribusi logistik dan bahan baku impor.
Presiden Direktur FORE, Vico Lomar, mengungkapkan perusahaan telah menerima sejumlah pengajuan kenaikan harga dari vendor akibat meningkatnya biaya operasional.
“Beberapa pemasok sudah menyampaikan proposal penyesuaian harga karena biaya distribusi dan energi ikut naik,” ujar Vico dalam paparan publik perusahaan.
Meski begitu, FORE menilai tekanan biaya tersebut masih dapat dikendalikan. Perseroan mengaku telah mengantisipasi potensi kenaikan harga sejak awal melalui kontrak kerja sama jangka panjang dengan para pemasok.
Strategi penguncian harga atau price lock juga diterapkan untuk sejumlah bahan baku yang dianggap rawan terdampak fluktuasi global. Langkah tersebut dinilai mampu menjaga stabilitas harga jual produk kepada konsumen.
Menurut Vico, tekanan kenaikan biaya diperkirakan paling terasa pada bahan baku berbasis plastik yang berkaitan erat dengan industri petrokimia dan distribusi energi global.
“Untuk saat ini, kami belum memiliki rencana menaikkan harga produk Fore Coffee,” katanya.
Keputusan mempertahankan harga produk dinilai menjadi strategi penting di tengah persaingan industri kopi yang semakin ketat. Selain menjaga loyalitas pelanggan, langkah tersebut juga diharapkan mampu mempertahankan pertumbuhan transaksi di berbagai wilayah ekspansi.
Tak hanya fokus menjaga harga, FORE juga menyiapkan ekspansi besar sepanjang 2026. Perseroan mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp250 miliar untuk memperluas jaringan usaha.
Direktur FORE, Tjong Pie Chen, menjelaskan sebagian besar dana akan digunakan untuk pengembangan gerai Fore Coffee dan Fore Donut di berbagai kota potensial di Indonesia.
“Ekspansi gerai tetap menjadi fokus utama perusahaan tahun ini,” ujar Tjong.
Dari total anggaran tersebut, sekitar Rp200 miliar dialokasikan untuk pembukaan gerai Fore Coffee baru. Sementara Rp50 miliar lainnya disiapkan untuk pengembangan Fore Donut serta pembangunan fasilitas central kitchen guna mendukung operasional yang lebih efisien.
FORE menargetkan pembukaan sekitar 100 outlet baru sepanjang tahun ini. Jumlah itu lebih tinggi dibanding pencapaian ekspansi pada tahun sebelumnya.
Pengamat bisnis ritel dan F&B, Arif Nugroho, menilai langkah FORE menahan kenaikan harga di tengah tekanan global bisa menjadi strategi efektif menjaga pasar anak muda dan pekerja urban.
“Konsumen saat ini sangat sensitif terhadap harga. Brand yang mampu menjaga harga tetap stabil punya peluang mempertahankan loyalitas pelanggan lebih besar,” ujarnya.
Ekspansi agresif yang dibarengi stabilitas harga menunjukkan optimisme industri kopi modern Indonesia masih cukup kuat meski dibayangi ketidakpastian ekonomi global. Dengan penetrasi pasar yang terus meluas, FORE berharap dapat memperkuat posisinya di industri food and beverage nasional.
Baca berita ekonomi, bisnis, dan tren gaya hidup terbaru lainnya di JurnalLugas.Com
(William)






