JurnalLugas.Com – Awan kelam tengah menyelimuti Neta Auto, salah satu produsen kendaraan listrik asal Tiongkok yang sebelumnya sempat digadang-gadang sebagai bintang baru industri otomotif Asia. Papan nama perusahaan yang menghilang dari kantor pusatnya di Shanghai menjadi simbol nyata dari ketidakpastian masa depan perusahaan tersebut.
Kabar kepindahan kantor pusat Neta yang masih diselimuti teka-teki hanya mempertegas bahwa perusahaan ini tengah berada di ambang krisis serius. Ketidakjelasan lokasi baru menambah kekhawatiran publik, terlebih saat rumor internal menguat tentang restrukturisasi besar-besaran.
Tekanan Internal: CEO Terancam Lengser
Situasi semakin memanas setelah beberapa sumber internal mengungkap bahwa para pemegang saham besar yang terafiliasi dengan pemerintah Tiongkok sedang berupaya menggulingkan pendiri Neta, Fang Yunzhou, dari jabatan ganda sebagai CEO dan ketua dewan direksi. Tekanan ini datang bersamaan dengan desakan untuk segera menggelar rapat darurat guna membahas nasib perusahaan.
Fang, yang dulu dipuji sebagai tokoh visioner dalam revolusi kendaraan listrik, kini berada di bawah sorotan tajam. Para investor mulai kehilangan kepercayaan setelah laporan menunjukkan kerugian kumulatif mencapai 18,3 miliar yuan atau sekitar 2,5 miliar dolar AS, sementara rasio utang membengkak hingga 217 persen.
Gelombang Masalah: Dari Produksi Macet hingga PHK Massal
Tak hanya soal kepemimpinan, kondisi finansial Neta juga kian memburuk. Perusahaan dilaporkan memiliki utang lebih dari 6 miliar yuan (sekitar 833 juta USD) kepada berbagai pemasok, termasuk raksasa baterai CATL yang telah menghentikan pasokan komponen vital. Akibatnya, lini produksi domestik lumpuh total dan pesanan ekspor tertunda, meskipun Neta sempat mengamankan kredit senilai 2,15 miliar yuan di Thailand.
Penurunan tajam juga tercermin dari angka penjualan. Setelah mencatatkan penjualan sebesar 152.000 unit pada 2022, angka itu turun menjadi 127.500 pada 2023, dan kembali merosot drastis pada 2024 menjadi hanya 64.549 unit. Kondisi ini diperburuk oleh laporan PHK besar-besaran, penutupan toko, hingga aksi protes dari para pemasok yang merasa dirugikan.
Upaya efisiensi melalui pemangkasan insentif karyawan dan perampingan operasional nyatanya belum membuahkan hasil. Restrukturisasi pun kini menjadi satu-satunya jalan yang tengah dipertimbangkan, bahkan membuka kemungkinan terburuk: kebangkrutan.
Dengan situasi yang kian genting, Neta Auto berada di titik nadir dalam perjalanannya. Dari perusahaan rintisan yang sempat menjanjikan masa depan cerah bagi kendaraan listrik Tiongkok, kini justru berada dalam cengkeraman krisis struktural dan keuangan yang mengancam kelangsungan hidupnya.
Mampukah Neta keluar dari badai ini dan kembali bangkit? Ataukah perusahaan ini akan menjadi contoh pahit dari pertumbuhan pesat yang tidak disertai manajemen risiko yang memadai?
Untuk informasi terkini dan berita mendalam lainnya, kunjungi JurnalLugas.Com.






