ICEFCOM Taiwan Diduga Dalang Serangan Siber ke China

Computer hacking

JurnalLugas.Com – Kepolisian di Distrik Tianhe, Guangzhou, mengumumkan daftar pencarian terhadap 20 orang yang diduga terlibat dalam serangan siber terorganisir. Kelompok ini disebut memiliki kaitan dengan otoritas Partai Progresif Demokratik (DPP) Taiwan serta unit militer siber yang dikenal sebagai Information, Communications and Electronic Force Command (ICEFCOM).

Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Kamis (5/6), pihak berwenang menawarkan hadiah sebesar 10.000 yuan setara dengan Rp22,67 juta bagi siapa pun yang memberikan informasi yang mengarah pada penangkapan para tersangka. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 1.390 dolar AS.

Bacaan Lainnya

Jejak Serangan Siber Lintas Wilayah

Berdasarkan penyelidikan aparat keamanan, ICEFCOM diduga menjadi otak di balik serangkaian serangan digital skala besar yang menyasar infrastruktur penting di Tiongkok Daratan, Hong Kong, dan Makau. Operasi ini dilakukan melalui penyamaran sebagai berbagai kelompok peretas, dengan target utama mencakup sektor-sektor strategis seperti pertahanan nasional, penerbangan, energi, transportasi, dan riset teknologi.

Baca Juga  China Perkuat Kekuatan Militer, Beijing Tak Akan Biarkan Taiwan Merdeka dan Campur Tangan Asing

“Jika tidak berhasil mencuri data, mereka justru merusak sistem dan mengacaukan aktivitas operasional instansi dan perusahaan korban,” ungkap Biro Keamanan Publik Tianhe.

Kolaborasi dengan Kekuatan Eksternal

Laporan investigasi gabungan dari tiga lembaga keamanan siber utama Tiongkok termasuk Pusat Tanggap Darurat Virus Komputer Nasional mengungkap bahwa ICEFCOM memiliki dukungan kuat dari militer Amerika Serikat, terutama setelah Presiden Tsai Ing-wen menjabat di Taiwan. Unit ini disebut menjalankan operasi cyber espionage, infiltrasi digital, dan kampanye perang opini terhadap Tiongkok.

Bukan hanya itu, mereka juga disebut menjalin koneksi dengan kelompok anti-Tiongkok di luar negeri guna mendorong ketegangan sosial, menciptakan konflik etnis, dan mempromosikan agenda separatis melalui taktik yang dikenal sebagai “revolusi warna”.

Baca Juga  Tesla Tarik 1 Juta Lebih Kendaraan di China Akibat Masalah Ini

Bukti Digital Mengarah ke Penyerang

Polisi mengklaim berhasil memperoleh data sumber penting dari sistem yang disusupi, yang membantu mempercepat proses identifikasi pelaku dan pola serangan. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa ICEFCOM memiliki skema jangka panjang untuk mengganggu stabilitas dan keamanan Tiongkok dengan memanfaatkan teknologi informasi sebagai senjata utama.

Hingga kini, pihak berwenang terus memperluas penyelidikan, serta menghimbau masyarakat untuk memberikan informasi jika melihat aktivitas mencurigakan yang dapat membantu proses hukum terhadap para tersangka.

📲 Ikuti terus perkembangan berita internasional lainnya hanya di JurnalLugas.Com.

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait