JurnalLugas.Com – Meski Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mengumumkan gencatan senjata antara Iran dan Israel pada Selasa (24/6/2025), situasi di jalur pelayaran strategis Selat Hormuz belum menunjukkan tanda-tanda membaik. Kawasan yang menjadi jalur vital bagi 30% distribusi minyak dunia ini justru menghadapi ancaman baru berupa gangguan sinyal GPS dan lonjakan tajam tarif pelayaran.
Gangguan sinyal ini berdampak langsung pada lalu lintas kapal. Angeliki Frangou, pimpinan perusahaan pelayaran global Navios Maritime Partners yang berbasis di Yunani, menyebutkan bahwa aktivitas pelayaran di Selat Hormuz menurun signifikan. “Kami melihat penurunan hingga 20% dalam jumlah kapal yang melintas. Banyak yang memilih menunggu di luar area karena gangguan navigasi,” ujarnya, Rabu (25/6/2025).
Menurut Frangou, para operator kapal kini hanya berani melintas pada siang hari. “Banyak pelaut merasa perjalanan malam hari terlalu berisiko akibat sinyal yang hilang. Ini kondisi yang sangat rentan bagi keselamatan kapal dan awaknya,” imbuhnya.
Berdasarkan data dari Maritime Information Cooperation & Awareness Center, tercatat sekitar 970 kapal per hari mengalami gangguan sinyal dalam sepekan terakhir. Temuan tersebut diperkuat oleh firma analisis pelayaran Kpler yang mendeteksi penurunan lalu lintas kapal di kawasan Selat Hormuz dari tanggal 13 hingga 22 Juni, menggunakan data identifikasi unik MMSI (Maritime Mobile Service Identity).
Selat Hormuz sendiri hanya memiliki lebar sekitar 21 mil di titik tersempitnya, sehingga menjadi salah satu jalur paling sensitif di dunia. Gangguan navigasi di wilayah sempit seperti ini dapat dengan cepat memicu kecelakaan laut maupun keterlambatan distribusi logistik energi global.
Tak hanya mengancam keselamatan, kondisi ini juga berdampak pada sektor ekonomi. Biaya asuransi kapal dan tarif pengiriman barang melonjak tajam. Data dari platform intelijen logistik Xeneta menyebutkan, tarif pengangkutan spot rata-rata telah mencapai US\$3.341 per unit kontainer FEU (Forty-foot Equivalent Unit).
Kenaikan tarif paling tajam terjadi pada rute dari Shanghai menuju Pelabuhan Khor Fakkan di Uni Emirat Arab. Rute ini kini mengalami lonjakan biaya hingga 76% dibandingkan pertengahan Mei. Pelabuhan Khor Fakkan yang berada di luar Selat Hormuz menjadi titik penting bagi pelayaran lintas Timur Tengah dan Asia Selatan.
“Dalam satu malam, tarif bisa melonjak dua kali lipat,” jelas Frangou. Ia juga menekankan bahwa kondisi pasar pengangkutan sangat fluktuatif. “Ketika tarif naik, biasanya butuh waktu lama untuk kembali normal,” ujarnya.
Berbeda dengan rute Laut Merah yang masih bisa dialihkan akibat konflik Yaman, kapal tanker dan kontainer yang melewati Selat Hormuz tidak punya banyak pilihan rute alternatif. “Biaya pengoperasian kapal tanker besar jenis VLCC saat ini menembus US\$70.000 per hari,” ungkap Frangou.
Kondisi ini menandakan bahwa walau diplomasi berjalan di permukaan, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa stabilitas kawasan masih rapuh. Jalur pengiriman energi dunia tetap berada dalam tekanan tinggi.
Simak berita terkini dan laporan eksklusif lainnya hanya di JurnalLugas.Com






