JurnalLugas.Com – Ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat kembali memanas usai pernyataan tajam Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang menyindir Israel sebagai “anak papa” yang tak berdaya tanpa campur tangan Amerika Serikat. Sindiran ini dilontarkan menyusul konflik bersenjata yang berlangsung selama 12 hari sejak 13 Juni 2025 dan serangan udara AS terhadap fasilitas nuklir Iran.
Melalui unggahan di platform X (dulu Twitter), Araghchi menuding Israel sepenuhnya bergantung pada kekuatan militer AS untuk menghadapi Iran. Ia membandingkan hubungan Israel-AS layaknya seorang anak manja yang mengadu kepada ayahnya setiap kali menghadapi kesulitan.
“Rakyat Iran yang agung dan perkasa telah menunjukkan kepada dunia bahwa rezim Israel tidak punya pilihan selain lari ke ‘Papa’ demi menghindari dihancurkan oleh rudal kami,” tulis Araghchi dalam pernyataan di akun pribadinya, Minggu (29/6/2025).
Sindiran Araghchi merujuk pada keterlibatan langsung militer AS yang menyerang beberapa fasilitas nuklir utama Iran seperti Fordow, Natanz, dan Isfahan, di tengah eskalasi dengan Israel. Dalam pandangan Menlu Iran, aksi tersebut mencerminkan lemahnya posisi Israel yang selalu membutuhkan intervensi pihak luar.
Tak hanya menyindir Israel, Araghchi juga memberikan peringatan keras kepada Presiden AS, Donald Trump. Ia menuntut Trump menghentikan pernyataan-pernyataan yang dianggap melecehkan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
“Trump harus menyingkirkan nada tidak sopan dan tak dapat diterima terhadap Khamenei dan berhenti menyakiti jutaan pengikut setia beliau,” tegasnya.
Araghchi mengingatkan bahwa Iran memiliki kapasitas untuk membalas jika provokasi terus berlanjut. Ia menekankan bahwa sikap Iran akan mencerminkan prinsip timbal balik: penghormatan dibalas dengan penghormatan, namun arogansi akan dijawab dengan kekuatan.
“Jika delusi memicu kesalahan yang lebih besar, Iran tidak akan ragu untuk menunjukkan kemampuan nyata-nya, yang pasti akan mengakhiri semua ilusi tentang kekuatan Iran,” pungkas Araghchi.
Pernyataan Araghchi muncul tak lama setelah berakhirnya konflik bersenjata antara Iran dan Israel yang berlangsung sejak 13 hingga 24 Juni 2025. Meski gencatan senjata telah disepakati melalui mediasi AS, tensi tetap tinggi, terutama usai serangan udara yang menghantam instalasi nuklir vital Iran.
Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei, menyatakan bahwa negaranya telah memberi “tamparan keras” kepada Israel dan AS. Namun, klaim tersebut ditolak mentah-mentah oleh Trump yang bahkan menyebut Khamenei sebagai “pembohong” dan “konyol”.
Melalui platform Truth Social, Trump menegaskan bahwa dirinya telah menolak permintaan dari Israel dan militer AS untuk melakukan serangan terhadap Khamenei, meskipun posisi sang Ayatollah sudah diketahui.
“Saya telah menyelamatkan nyawanya dari pembunuhan,” tulis Trump, menyiratkan bahwa niat mencabut sanksi terhadap Iran kini sepenuhnya dibatalkan.
Situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah pun kini memasuki babak baru ketegangan, dengan narasi saling klaim dan provokasi yang masih terus berlangsung di ruang publik global.






