Amir-Saeid Iravani Iran Tak Akan Hentikan Uranium Meski Diserang AS dan Israel

JurnalLugas.Com – Di tengah eskalasi ketegangan kawasan usai serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap sejumlah fasilitas nuklir Iran, Duta Besar Iran untuk PBB, Amir-Saeid Iravani, menegaskan bahwa negaranya tidak akan menghentikan program pengayaan uranium.

“Pengayaan adalah hak kami, hak yang tidak bisa dicabut, dan kami ingin menegakkan hak ini,” ujar Iravani dalam pernyataan yang dikutip Minggu (29/6/2025). Ia menekankan bahwa program nuklir Iran bersifat damai dan ditujukan untuk kebutuhan energi, bukan senjata.

Bacaan Lainnya

Meski menyatakan kesiapan kembali ke meja perundingan, Iravani menilai bahwa situasi saat ini belum kondusif. Ia menyindir pendekatan Washington yang dinilainya lebih bersifat ultimatum daripada diplomasi. “Jika mereka ingin negosiasi, kami siap. Tapi kalau ingin mendikte, maka tidak mungkin ada perundingan,” tegasnya.

Baca Juga  Pekan Kedua Perang AS-Iran, Trump Paksa Teheran Menyerah, Pezeshkian Mimpi Kosong

Pernyataan Iravani merespons retorika mantan Presiden AS, Donald Trump, yang menyebut Iran harus tunduk tanpa syarat. Ia menilai pendekatan tersebut justru memperkeruh upaya diplomasi, terlebih setelah serangan yang merusak beberapa situs penting Iran.

Terkait tudingan bahwa Iran mengancam Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi, Iravani membantahnya. Namun ia membenarkan bahwa parlemen Iran telah memutuskan untuk menangguhkan kerja sama dengan IAEA. “Para inspektur masih di Iran, tapi tidak lagi memiliki akses ke fasilitas kami karena mereka tidak menjalankan tugasnya secara profesional,” katanya.

Grossi sebelumnya memperingatkan bahwa kapasitas teknis Iran untuk melanjutkan pengayaan uranium masih utuh. “Dalam hitungan bulan, atau bahkan lebih cepat, mereka bisa kembali mengoperasikan sentrifugal,” ujarnya. Grossi juga menyatakan ketidakpastian soal apakah cadangan uranium yang telah diperkaya hingga 60% sempat dipindahkan sebelum serangan terjadi.

Sementara itu, Donald Trump mengklaim bahwa fasilitas nuklir Iran telah “dihancurkan total.” Ia bahkan menyebut bahwa ribuan ton batu digunakan untuk menyegel lokasi tersebut. Namun, laporan intelijen AS mengindikasikan kerusakan tidak separah yang dinyatakan. Sumber dalam pemerintahan AS menyebut klaim Trump terlalu bombastis dan tidak didukung bukti lapangan.

Baca Juga  Mansoureh Khojasteh Istri Pemimpin Tertinggi Iran Khamenei Wafat

Gedung Putih melalui juru bicara Karoline Leavitt pun meremehkan pernyataan Iran. Ia menyatakan bahwa klaim pejabat Iran yang tidak disebutkan namanya mengenai kondisi fasilitas di bawah reruntuhan adalah “omong kosong.”

Di tengah ketidakpastian diplomatik dan narasi yang saling bertolak belakang, masa depan program nuklir Iran kembali menjadi titik panas geopolitik dunia. Situasi ini sekaligus menandai kerentanan hubungan internasional yang rapuh dalam isu proliferasi nuklir.

Baca berita internasional lainnya hanya di JurnalLugas.Com.

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait