JurnalLugas.Com – Rokok elektrik atau vape kian populer sebagai alternatif merokok yang dianggap “lebih aman”. Namun di balik uap yang tampak ringan dan aroma beragam, terdapat dua zat utama dalam cairannya yang perlu diwaspadai: Propilen Glikol (PG) dan Gliserin Nabati (VG).
Kedua bahan ini berfungsi sebagai pelarut dan pembawa rasa, namun ketika dipanaskan dalam alat vape, senyawa ini dapat berubah menjadi zat beracun yang membahayakan kesehatan. Banyak pengguna tidak menyadari bahwa PG dan VG bukan sekadar bahan inert, melainkan bisa menimbulkan efek buruk dalam jangka pendek dan panjang.
Apa Itu PG dan VG dalam Vape?
Propilen Glikol (PG) adalah cairan sintetis tidak berwarna, tidak berbau, dan mudah larut dalam air. Zat ini sering digunakan dalam industri makanan dan farmasi sebagai pelarut. Dalam vape, PG berfungsi mengikat aroma dan memberikan sensasi “throat hit” layaknya rokok tembakau.
Gliserin Nabati (VG) adalah zat kental yang berasal dari minyak nabati. VG memberikan efek uap tebal saat dihisap, membuat vape terlihat lebih dramatis saat dikeluarkan. VG juga digunakan luas dalam kosmetik dan makanan sebagai pemanis atau pelumas.
Keduanya aman saat digunakan dalam jumlah kecil dan tidak dipanaskan. Namun dalam vape, suhu tinggi mengubah sifat kimia PG dan VG menjadi senyawa baru yang bisa beracun bagi tubuh.
Bahaya Kesehatan dari PG dan VG Saat Dipanaskan
1. Menghasilkan Senyawa Beracun Saat Dipanaskan
Studi dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health menemukan bahwa saat PG dan VG dipanaskan pada suhu tinggi dalam alat vape, keduanya bisa menghasilkan:
- Formaldehida
- Asetaldehida
- Akrolein
Ketiga zat tersebut dikenal sebagai senyawa karsinogenik, yaitu pemicu kanker jika terhirup dalam jumlah berulang. Formaldehida sendiri merupakan bahan pengawet jenazah dan sangat beracun bagi sistem pernapasan.
2. Iritasi Saluran Pernapasan
PG bersifat higroskopis, artinya menyerap kelembapan. Ketika uap PG masuk ke saluran pernapasan, bisa menyebabkan:
- Batuk kering
- Rasa terbakar di tenggorokan
- Radang saluran napas
- Sesak napas
Pada pengguna dengan asma atau gangguan paru-paru lainnya, reaksi PG bisa memperparah kondisi pernapasan. WHO menyebutkan paparan jangka panjang terhadap formaldehida dan akrolein dari vape juga bisa menyebabkan bronkitis kronis.
3. Risiko Terhadap Jantung dan Sistem Sirkulasi
Meskipun bukan senyawa nikotin, PG dan VG yang terurai menghasilkan senyawa karbonil beracun yang dapat memengaruhi sistem kardiovaskular. Studi tahun 2022 dari European Heart Journal menyatakan bahwa paparan berulang terhadap aldehida dari PG/VG dapat memicu inflamasi pembuluh darah dan meningkatkan risiko penyumbatan arteri.
4. Potensi Mutagenik dan Efek Jangka Panjang
Efek dari PG dan VG yang berubah menjadi zat toksik belum sepenuhnya diketahui dalam jangka panjang. Namun penelitian awal menyebutkan bahwa paparan kronis terhadap aldehida dan senyawa hasil pemanasan glikol dapat memicu mutasi DNA, risiko kanker paru, dan penurunan fungsi imun.
Pandangan Ahli dan Bukti Lapangan
Dr. Rina D. Putri, peneliti toksikologi dari Universitas Indonesia, menyatakan bahwa banyak pengguna vape menganggap PG dan VG aman karena sering digunakan di makanan.
“Masalahnya bukan pada zat aslinya, tapi bagaimana zat tersebut berubah ketika dipanaskan hingga ratusan derajat dalam coil vape. Ini bisa menciptakan senyawa berbahaya yang tidak muncul saat digunakan secara biasa,” kata Rina dalam seminar kesehatan publik, Mei lalu.
Sementara itu, tim riset dari University of North Carolina menemukan bahwa penggunaan vape secara rutin selama lebih dari 6 bulan dapat menurunkan fungsi imun di paru-paru hingga 40%, terutama akibat paparan senyawa hasil pemanasan PG/VG.
Anak Muda Paling Rentan, Edukasi Masih Minim
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika (FDA) telah mengingatkan bahwa remaja dan anak muda paling rentan terhadap efek berbahaya vape, termasuk paparan PG dan VG. Ironisnya, Indonesia justru mengalami peningkatan pengguna vape muda dalam 3 tahun terakhir.
“Banyak pelajar SMP dan SMA menggunakan vape tanpa tahu bahwa PG dan VG bisa menyebabkan iritasi paru yang parah. Mereka menganggap itu cuma ‘uap air beraroma’, padahal bukan,” ujar dr. Hendri Saputra, dokter spesialis paru RSUD Tangerang.
PG dan VG Tidak Sebersih yang Dikira
Walaupun PG dan VG memiliki reputasi aman dalam penggunaan industri lain, penggunaan dalam vape di bawah suhu tinggi menciptakan risiko baru yang tidak bisa diabaikan. Formaldehida, akrolein, dan aldehida lainnya adalah zat yang sudah terbukti berbahaya bagi tubuh, terutama paru dan jantung.
Dalam jangka panjang, penggunaan vape berbahan PG/VG tidak bisa disebut aman. Edukasi publik, terutama anak muda, penting untuk membongkar mitos bahwa vape hanyalah “uap beraroma”.
🔗 Baca informasi lengkap dan berita kesehatan lainnya di JurnalLugas.Com





