JurnalLugas.Com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu kemarahan publik internasional setelah ucapannya soal kelaparan ekstrem di Jalur Gaza dinilai melecehkan penderitaan warga Palestina. Ironisnya, di tengah krisis kemanusiaan yang memburuk, Trump tetap menyatakan dukungan penuh kepada Zionis Israel.
Dalam keterangannya di Gedung Putih, Jumat (1/8/2025), Trump menyebut kondisi di Gaza “sungguh mengerikan” dan “orang-orang sangat lapar”. Namun, intonasi serta gaya bicaranya dianggap lebih sebagai sindiran ketimbang simpati tulus. “Mereka lapar sekali… situasinya benar-benar hebat untuk dilihat, bukan?” ucapnya, yang memicu tafsir bahwa ia tengah menyindir.
Di Balik Kunjungan Utusan Khusus AS
Pernyataan Trump disampaikan jelang kunjungan utusan khususnya, Steve Witkoff, bersama Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, ke Gaza. Menurut Gedung Putih, keduanya akan meninjau titik distribusi bantuan yang dikelola otoritas Israel, berdialog dengan warga, dan menyusun rencana penyaluran pangan tambahan.
Namun, pengamat menilai langkah ini hanya formalitas politik. Di balik layar, Washington masih memberikan dukungan diplomatik dan militer kepada Tel Aviv, meski blokade Israel selama 18 tahun telah membuat Gaza terisolasi total.
Krisis Kemanusiaan yang Memburuk
Laporan PBB menyebutkan lebih dari 1.000 warga Palestina tewas sejak Mei 2025 di titik distribusi bantuan yang dikelola Gaza Humanitarian Foundation—organisasi yang mendapat restu Israel. Sejak 2 Maret 2025, Israel menutup seluruh jalur masuk ke Gaza, menghentikan total konvoi kemanusiaan.
Akibatnya, kekurangan pangan, minimnya akses air bersih, dan ketiadaan layanan medis telah menjerumuskan Gaza ke jurang kelaparan massal. Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan sedikitnya 154 kematian akibat kelaparan sejak Oktober 2023, termasuk 89 anak-anak.
Retorika Tajam, Kebijakan Tak Berubah
Meski Trump kerap menyebut dirinya prihatin, kebijakannya tetap sejalan dengan Israel. Dukungan Washington terhadap operasi militer dan blokade yang diberlakukan Tel Aviv membuat banyak pihak menilai komentar Trump hanyalah retorika kosong.
“Trump mengucapkan kata ‘mengkhawatirkan’, tapi tetap mengirim dukungan penuh ke Israel. Itu kontradiksi yang telanjang,” ujar seorang analis Timur Tengah.
Di tengah sorotan dunia, pernyataan menyindir Trump dan dukungannya terhadap Israel semakin memicu pertanyaan: apakah AS benar-benar peduli pada nasib warga Gaza, atau sekadar bermain di panggung politik internasional?
Baca berita selengkapnya di JurnalLugas.Com






