JurnalLugas.Com – Kebijakan tarif impor yang diberlakukan Presiden Donald Trump kembali mencatatkan capaian finansial signifikan. Berdasarkan laporan terbaru Departemen Keuangan Amerika Serikat, Selasa (12/8/2025) waktu setempat, penerimaan tarif impor pada Juli 2025 mencapai rekor tertinggi baru, yakni sekitar USD27,7 miliar atau setara lebih dari Rp430 triliun.
Angka tersebut melampaui catatan bulan sebelumnya yang berada di kisaran USD26,6 miliar pada Juni dan USD22,2 miliar pada Mei. Jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, lonjakan ini sangat mencolok, mengingat bea cukai pada Juli 2024 hanya sekitar USD8 miliar.
Dengan capaian Juli, total penerimaan tarif sejak awal tahun fiskal—yang berakhir 30 September—telah menyentuh USD135,7 miliar. Tren ini menunjukkan percepatan pemasukan negara selama masa jabatan kedua Trump, jauh di atas rata-rata penerimaan tarif pada pemerintahan sebelumnya, termasuk masa jabatan pertamanya.
Trump Sebut Pencapaian “Luar Biasa”
Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump menyebut pencapaian ini sebagai kabar besar bagi perekonomian negaranya. “Hal itu sangat luar biasa bagi negara kita, pasar sahamnya, kekayaannya, dan hampir semua hal lainnya,” tulisnya.
Namun, ia juga melontarkan kritik kepada lembaga keuangan Goldman Sachs terkait proyeksi tarif yang dinilai terlalu konservatif. Trump bahkan mengklaim bahwa nilai sebenarnya dari pendapatan tarif bisa mencapai triliunan dolar jika dihitung secara menyeluruh.
Kontribusi ke Penerimaan Negara Masih Terbatas
Meski memecahkan rekor bulanan, pendapatan tarif masih berkontribusi kecil terhadap total penerimaan pemerintah AS. Data Departemen Keuangan mencatat, total pendapatan negara pada Juli mencapai lebih dari USD338 miliar. Artinya, penerimaan tarif hanya menyumbang kurang dari 10 persen.
Bulan Juli sendiri biasanya menjadi periode “tenang” dalam jadwal penerimaan pajak, karena tidak bertepatan dengan jatuh tempo pembayaran pajak korporasi maupun pajak individu berskala besar.
Defisit Anggaran Tetap Melebar
Kendati pemasukan dari tarif melonjak, defisit anggaran federal tetap membengkak. Pada Juli 2025, defisit mencapai sekitar USD291 miliar. Dalam 10 bulan pertama tahun fiskal, selisih antara pengeluaran dan pendapatan negara sudah menyentuh USD1,63 triliun.
Pakar ekonomi menilai, meski tarif memberikan tambahan kas yang signifikan, kontribusinya belum cukup untuk menahan laju pembengkakan defisit. Tantangan fiskal AS diperkirakan akan terus berlanjut tanpa langkah reformasi pendapatan dan pengeluaran yang lebih seimbang.
Untuk berita terkini lainnya, kunjungi JurnalLugas.Com.






