Free Float Menyusut Saham PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) Jadi Rebutan Taipan Besar

JurnalLugas.Com – Aksi akumulasi saham oleh konglomerat Prajogo Pangestu kembali menjadi sorotan. Ia tercatat menambah kepemilikan di PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) dengan jumlah signifikan, meski kepemilikan terbesar di perusahaan tersebut hingga kini masih dipegang oleh keluarga Hartono.

Berdasarkan laporan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per Senin (18/8/2025), Prajogo membeli lebih dari 15 juta lembar saham SSIA sepanjang 13-14 Agustus 2025. Transaksi itu dilakukan melalui Henan Putihrai Asset Management (HPAM).

Bacaan Lainnya

Setelah aksi beli tersebut, total kepemilikan Prajogo mencapai 330,37 juta lembar saham atau setara dengan 7,02 persen dari keseluruhan saham beredar. Namun, angka itu masih berada di bawah porsi kepemilikan keluarga Hartono yang melalui PT Dwimuria Investama Andalan menggenggam 482 juta lembar saham, atau sekitar 10,24 persen.

Selain Hartono dan Prajogo, pemegang saham besar SSIA juga terdiri dari PT Arman Investments dengan porsi 8,52 persen, Intrepid Investment Ltd sebesar 8,2 persen, serta Persada Capital Investama yang menguasai 7,8 persen. Posisi Prajogo melalui HPAM menempatkannya di urutan keempat dalam daftar pemegang saham utama.

Free Float Mulai Menyusut

Fenomena lain yang menarik perhatian adalah menyusutnya saham publik (free float) SSIA. Jika pada akhir 2024 porsi saham publik masih di atas 70 persen, kini jumlahnya mendekati 50 persen. Kondisi ini menunjukkan meningkatnya dominasi pemegang saham besar dalam struktur kepemilikan perusahaan.

Baca Juga  IHSG Dibuka Menguat di Akhir Pekan, Sentimen Pasar Masih Terjaga Positif

Analis Bandingkan dengan Tiga Kerajaan

Analis Trimegah Sekuritas, Albert Jonah Kusuma, bahkan menggunakan metafora dari kisah klasik Tiongkok “Romance of The Three Kingdoms” untuk menggambarkan dinamika perebutan kepemilikan saham SSIA.

Menurut Albert, SSIA saat ini seperti medan perebutan antara pemain lama dan dua kekuatan baru yang masuk, yaitu Grup Djarum (Hartono) dan Grup Barito (Prajogo). Sementara pemegang saham lama—Arman Investments, Intrepid Investments, serta Persada Capital—masih mempertahankan kepemilikannya.

“Para pemegang saham lama yang selama ini menjadi penopang SSIA kini berada pada titik krusial. Mereka bisa memilih untuk tetap menjaga posisi dengan memperkuat koalisi, atau justru melakukan divestasi strategis agar bisa bernegosiasi dengan pemegang saham baru,” jelas Albert dalam riset yang dipublikasikan pertengahan Juli 2025.

Alasan SSIA Jadi Rebutan

Lebih lanjut, Albert menilai Surya Semesta Internusa memang memiliki portofolio aset yang strategis sehingga wajar menjadi incaran investor kelas kakap. Perseroan memiliki kawasan industri dengan luas lebih dari 2.600 hektare.

“Keunggulan SSIA terletak pada lokasi yang berdekatan dengan infrastruktur vital, seperti Pelabuhan Patimban, jaringan tol Trans Jawa, Bandara Kertajati, hingga proyek kereta cepat Jakarta-Surabaya,” kata dia.

Baca Juga  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Cantik Hari Ini

Dengan potensi itu, Albert menilai aset Surya Internusa semakin matang dan memiliki peluang besar untuk dimonetisasi. Dalam hitungannya, nilai wajar bersih (RNAV) SSIA pada 2025 bisa mencapai Rp3.300 per saham.

Valuasi tersebut mencakup kawasan industri senilai Rp9,44 triliun, properti investasi sebesar Rp4,06 triliun, jasa konstruksi Rp430 miliar, serta kas setelah dikurangi utang sebesar Rp1,7 triliun.

Arah Kepemilikan

Dengan peta kepemilikan yang mulai bergeser, para analis melihat bahwa SSIA akan terus menjadi arena perebutan kepentingan antar-taipan. Masuknya nama-nama besar seperti keluarga Hartono dan Prajogo Pangestu menandakan nilai strategis perusahaan ini di masa depan, khususnya di sektor properti dan infrastruktur.

Apakah para pemegang saham lama akan tetap bertahan, atau justru melepas sebagian kepemilikannya untuk membuka ruang manuver baru, masih menjadi pertanyaan yang akan dijawab dalam beberapa waktu mendatang.

Baca berita ekonomi dan bisnis lainnya di 👉 JurnalLugas.Com

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait