Netanyahu Umumkan Rencana Kuasai Kota Gaza Sandera Israel Jadi Taruhan

JurnalLugas.Com – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Jumat (22/8/2025) menyatakan bahwa ia memerintahkan negosiasi segera untuk membebaskan seluruh sandera yang masih ditahan di Gaza. Namun, pernyataan ini dinilai kontradiktif lantaran di saat bersamaan Netanyahu menyetujui rencana militer pendudukan Kota Gaza.

Langkah itu disampaikan Netanyahu saat melakukan kunjungan ke Divisi Militer Gaza. Ia menegaskan, operasi merebut Kota Gaza sekaligus proses pembebasan sandera merupakan prioritas ganda yang harus dijalankan pasukan Israel.

Bacaan Lainnya

“Saya menyetujui rencana militer untuk menguasai Kota Gaza dan melanjutkan pertempuran melawan Hamas. Namun di saat yang sama, saya menginstruksikan negosiasi segera untuk pembebasan semua sandera kami, dengan syarat yang sesuai kepentingan Israel,” ujar Netanyahu dalam pernyataannya.

Kontradiksi dengan Proposal Mediasi

Pernyataan Netanyahu muncul hanya beberapa hari setelah Hamas menerima proposal mediasi Mesir-Qatar. Rencana tersebut mencakup pembebasan sekitar separuh sandera dengan imbalan gencatan senjata selama 60 hari serta perundingan menuju penghentian perang permanen.

Namun, isi proposal itu bertolak belakang dengan tujuan Israel yang secara terbuka menyatakan ingin menduduki Kota Gaza. Menurut laporan media Israel, kesepakatan awal menyebutkan jeda pertempuran 60 hari dengan mekanisme pertukaran sandera dalam dua tahap.

Tahap pertama mencakup pembebasan 10 warga Israel hidup-hidup dan 18 jenazah sandera dengan imbalan tahanan Palestina. Tahap kedua adalah dimulainya perundingan jangka panjang untuk de-eskalasi permanen.

Jumlah Sandera dan Tahanan Palestina

Israel memperkirakan Hamas masih menahan sekitar 50 orang, termasuk 20 yang diyakini masih hidup. Sementara itu, data kelompok hak asasi manusia mencatat lebih dari 10.800 warga Palestina dipenjara di Israel, di tengah tudingan adanya praktik penyiksaan hingga kelalaian medis terhadap para tahanan.

Netanyahu menyebut kondisi saat ini sebagai “tahap menentukan”. Ia juga memuji peran pasukan cadangan dan tentara reguler yang disebutnya menjalankan misi vital demi keamanan Israel.

Rencana Militer “Kereta Perang Gideon 2”

Di sisi lain, Menteri Pertahanan Israel Yoav Katz pada Rabu (20/8/2025) telah menyetujui rencana militer baru yang dinamakan Kereta Perang Gideon 2. Rencana tersebut memprioritaskan pendudukan penuh Kota Gaza meskipun ada upaya mediasi internasional.

Rancangan operasi itu mencakup:

  • Pemindahan paksa sekitar 1 juta penduduk Gaza ke wilayah selatan.
  • Mengepung penuh Kota Gaza.
  • Melakukan penggerebekan intensif di kawasan perkotaan.
  • Melanjutkan serangan ke kamp-kamp pengungsi di Gaza tengah.

Langkah ini menuai kritik luas karena dinilai memperburuk kondisi kemanusiaan. Sebagian besar kamp pengungsi di Gaza tengah sebelumnya sudah mengalami kerusakan parah akibat serangan udara dan darat Israel.

Dampak Kemanusiaan di Gaza

Sejak dimulainya agresi pada Oktober 2023, militer Israel disebut telah menewaskan lebih dari 62.000 warga Palestina. Serangan masif juga menghancurkan sebagian besar infrastruktur Gaza, menimbulkan krisis pangan, dan menyebabkan kematian akibat kelaparan.

Organisasi kemanusiaan menilai rencana terbaru Israel berpotensi meningkatkan jumlah korban sipil. Selain itu, pemindahan paksa warga sipil dalam skala besar dikhawatirkan melanggar hukum internasional.

Antara Negosiasi dan Perang

Pernyataan Netanyahu ini memunculkan pertanyaan besar mengenai arah kebijakan Israel: apakah pemerintah benar-benar berniat membuka jalan damai melalui negosiasi, atau justru tetap berfokus pada strategi militer pendudukan.

Sejumlah analis politik di Tel Aviv menyebut langkah Netanyahu adalah strategi ganda. Di satu sisi, ia ingin meredam tekanan keluarga sandera yang menuntut pembebasan segera. Di sisi lain, Netanyahu tetap mempertahankan agenda militer untuk menguasai Gaza sebagai syarat yang tidak bisa ditawar.

Situasi yang saling bertentangan ini membuat masa depan gencatan senjata di Gaza masih penuh ketidakpastian. Dunia internasional kini menunggu perkembangan lebih lanjut dari jalur mediasi Mesir-Qatar serta respons Hamas terhadap pernyataan terbaru Netanyahu.

Baca berita terkini lainnya hanya di JurnalLugas.Com.

Tombol Google News - JurnalLugas
Baca Juga  Kelicikan Israel Ledakan Pager di Lebanon Firas Al-Abiad 9 Tewas Termasuk Anak-Anak

Pos terkait