Pelanggan Naik 41% Tapi EXCL Tetap Rugi Rp1,2 Triliun Semester I-2025 Ini Penyebabnya

JurnalLugas.Com — PT XL Smart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) mencatat kerugian bersih Rp1,2 triliun sepanjang semester I-2025. Angka tersebut jauh dari ekspektasi pasar yang sebelumnya memperkirakan perseroan masih bisa mencatat laba.

Berdasarkan laporan keuangan kuartal II-2025, EXCL membukukan rugi Rp1,6 triliun, berbalik dari capaian laba Rp385 miliar di kuartal I-2025.

Bacaan Lainnya

Pertumbuhan pelanggan belum sesuai target

Jumlah pelanggan mobile EXCL per akhir Juni 2025 tercatat 82,6 juta, naik signifikan 41% secara tahunan (YoY) dan 40% dibanding kuartal sebelumnya (QoQ). Namun, capaian ini masih lebih rendah dari proyeksi awal yang dipatok 94,5 juta pelanggan.

Manajemen menjelaskan penurunan basis pelanggan tersebut terkait harmonisasi definisi pelanggan pasca-merger. “Proses integrasi menyebabkan data pelanggan disesuaikan dengan standar baru,” ungkap manajemen dalam keterangannya.

Baca Juga  Garuda Indonesia & Pelita Air Siap Merger? Ini Penjelasan Danantara dan Pertamina

Dari sisi pendapatan rata-rata per pelanggan (average revenue per user/ARPU), EXCL mencatat penurunan menjadi Rp36 ribu pada kuartal II-2025, atau turun 14% YoY dan 5% QoQ. Pelemahan ARPU ini terjadi karena kontribusi dari basis pelanggan Smartfren yang memiliki ARPU lebih rendah, yakni Rp24 ribu pada 2024, dibandingkan XL Axiata dengan Rp43 ribu pada periode sama.

Biaya operasional melonjak

Catatan Stockbit pada Rabu (27/8/2025) menunjukkan, beban operasional menjadi penekan utama kinerja EXCL. Biaya gaji dan karyawan meningkat drastis 139% hingga Rp1,1 triliun, sementara beban infrastruktur naik 39% menjadi Rp3 triliun.

Selain itu, EXCL juga menanggung biaya integrasi Rp379 miliar, depresiasi dipercepat Rp739 miliar, serta impairment aset Rp802 miliar terkait pengembalian spektrum 900 MHz pada akhir 2026. Akumulasi beban tersebut membuat kinerja kuartal II merosot tajam.

Baca Juga  PT Smartfren Telecom dan Smartel Raih Fasilitas Kredit Sindikasi Rp10 Triliun Digunakan Untuk Ini

Meski demikian, bila mengesampingkan biaya non-rutin (one-off), EXCL sebenarnya masih mencatat laba bersih setelah pajak yang telah dinormalisasi sebesar Rp313 miliar.

Saham EXCL terkoreksi

Usai laporan keuangan dirilis, saham EXCL terkoreksi 6,8% ke level Rp2.760 per saham pada Rabu (27/8/2025).

Stockbit menilai pelemahan harga saham dipicu realisasi biaya integrasi yang lebih tinggi dari perkiraan pasar. “Tantangan EXCL hingga akhir tahun masih besar karena tambahan biaya integrasi dan depresiasi dipercepat frekuensi 900 MHz. Hal ini tercermin dari proyeksi penurunan margin EBITDA ke kisaran 40–45%,” tulis Stockbit.

Lihat berita selengkapnya di JurnalLugas.Com

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait