Rumor Haji Isam Akuisisi 62% Saham BYAN, Harga Bayan Resources Langsung Melejit 20%

JurnalLugas.Com — Pasar saham kembali diramaikan kabar aksi korporasi besar. Kali ini, rumor mengenai rencana pengambilalihan saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) oleh pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad atau yang lebih dikenal sebagai Haji Isam menjadi perhatian investor.

Kabar yang beredar menyebut Haji Isam tengah dikaitkan dengan rencana akuisisi sekitar 62 persen saham Bayan Resources.

Bacaan Lainnya

Jika benar terealisasi, transaksi tersebut akan menjadi salah satu aksi korporasi besar di sektor pertambangan batu bara sekaligus mengubah peta kepemilikan salah satu emiten tambang terbesar di Bursa Efek Indonesia.

Namun, hingga kabar tersebut mencuat, belum ada kepastian bahwa transaksi pengambilalihan saham BYAN itu telah resmi terjadi.

Informasi yang beredar lebih banyak dikaitkan dengan aktivitas sejumlah tokoh bisnis di sekitar wilayah operasional Bayan Resources.

Rumor tersebut menguat setelah Haji Isam dikabarkan bersama pemegang saham pengendali Bayan Resources, Dato’ Low Tuck Kwong, serta pemilik Republik Korpora Indonesia (RKI) Norman Joesoef terlihat meninjau area pertambangan BYAN di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, pada Sabtu (15/8/2026).

Sementara itu, pihak yang disebut berada di lingkungan Jhonlin Group belum memberikan penjelasan mengenai kabar rencana akuisisi tersebut. Sikap ini membuat pasar masih menunggu informasi resmi terkait kemungkinan adanya transaksi saham dalam jumlah besar.

Bagi investor, isu tersebut menjadi menarik karena nama Haji Isam bukan pemain baru dalam industri pertambangan. Kiprahnya di sektor batu bara telah berkembang melalui Jhonlin Group yang pada awalnya dikenal melalui bisnis kontraktor pertambangan.

Dari bisnis tersebut, jaringan usaha Jhonlin kemudian berkembang ke berbagai sektor. Bisnisnya mencakup logistik, pelayaran, perkebunan kelapa sawit, biodiesel hingga mineral.

Baca Juga  Market Cap RI Melejit! OJK Ungkap Batas 70% PDB Hampir Tembus Lebih Cepat 4 Tahun

Ekspansi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas bisnis Haji Isam dalam beberapa tahun terakhir tidak lagi hanya berpusat pada batu bara.

Salah satu langkah yang mencuri perhatian terjadi pada Mei 2026 ketika Haji Isam mengakuisisi sekitar 21,11 persen saham PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK), perusahaan yang bergerak di sektor nikel.

Nilai transaksi saham PACK tersebut disebut mencapai sekitar Rp936,65 miliar. Langkah itu memperlihatkan semakin luasnya portofolio bisnis Haji Isam di sektor sumber daya alam.

Di sisi lain, Jhonlin sendiri tetap mempunyai pijakan kuat di industri batu bara melalui Jhonlin Baratama. Ekosistem bisnis grup tersebut juga diperkuat lini agribisnis melalui PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR), yang memiliki kegiatan usaha berkaitan dengan perkebunan dan biodiesel.

Jaringan pendukung sektor pertambangan juga terlihat melalui PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE). Perseroan memiliki kegiatan usaha yang berkaitan dengan infrastruktur pertambangan, termasuk fasilitas jalan angkut, stockpile, terminal batu bara serta layanan kepelabuhanan.

Karena itu, apabila rumor akuisisi saham BYAN tersebut nantinya terbukti dan mendapatkan kepastian resmi, transaksi itu berpotensi memperbesar pijakan bisnis Haji Isam di industri batu bara nasional.

Posisi tersebut juga akan membuat ekosistem usaha Jhonlin semakin terhubung dengan salah satu perusahaan tambang batu bara terbesar di pasar modal Indonesia.

Saham BYAN hingga JARR Ikut Jadi Sorotan

Pasar saham merespons kuat rumor yang mengaitkan Haji Isam dengan Bayan Resources. Pada perdagangan Jumat (14/8/2026), saham BYAN ditutup melesat hingga menyentuh batas atas pergerakan harga harian atau auto rejection atas (ARA).

Saham BYAN naik 20 persen dan berakhir di level Rp14.400 per saham. Dengan harga tersebut, kapitalisasi pasar Bayan Resources berada di kisaran Rp480 triliun.

Pergerakan positif juga terlihat pada sejumlah saham yang mempunyai keterkaitan dengan ekosistem bisnis Jhonlin.

Baca Juga  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Dibuka Melemah di Awal November 2024

Saham TEBE bahkan ikut menyentuh ARA dengan kenaikan 25 persen ke level Rp1.375 per saham. Sementara saham JARR menguat 6,63 persen menjadi Rp2.010 per saham.

Penguatan juga terjadi pada PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN). Saham emiten tersebut naik 2,68 persen hingga berada di level Rp7.650 per saham.

Pergerakan sejumlah saham tersebut memperlihatkan bagaimana isu mengenai kemungkinan aksi korporasi berskala besar dapat dengan cepat menjadi perhatian investor. Meski demikian, kenaikan harga saham tidak otomatis menjadi bukti bahwa transaksi akuisisi telah terjadi.

Investor tetap perlu membedakan antara rumor pasar dengan informasi korporasi yang telah dikonfirmasi secara resmi.

Kepastian mengenai siapa yang akan membeli saham, berapa jumlah saham yang berpindah tangan, nilai transaksi, struktur pendanaan hingga persetujuan yang diperlukan baru dapat diketahui setelah terdapat keterbukaan informasi atau pernyataan resmi dari pihak terkait.

Jika nantinya akuisisi BYAN benar terjadi, dampaknya tidak hanya akan berkaitan dengan perubahan kepemilikan saham.

Transaksi tersebut berpotensi menjadi langkah strategis yang mempertemukan jaringan bisnis batu bara Bayan Resources dengan ekosistem usaha Jhonlin yang telah memiliki pengalaman panjang di sektor pertambangan dan rantai pasoknya.

Untuk saat ini, pasar masih menanti kejelasan atas rumor tersebut. Pergerakan saham BYAN dan sejumlah emiten yang berafiliasi dengan Jhonlin juga akan menjadi perhatian investor sembari menunggu informasi resmi mengenai kemungkinan aksi korporasi tersebut.

Baca perkembangan berita ekonomi, bisnis, saham, dan pasar terbaru hanya di JurnalLugas.Com.

(Hans)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait