Pertamina Optimalkan SPM Balongan Salurkan Minyak Jatibarang, Impor Crude Oil Ditekan

JurnalLugas.Com — Pertamina memperkuat pemanfaatan minyak mentah produksi dalam negeri dengan mengoptimalkan fasilitas penyaluran di Kilang Balongan, Indramayu, Jawa Barat.

Langkah ini dilakukan untuk memastikan minyak mentah Jatibarang Crude Oil (JCO) produksi Pertamina EP dapat terserap dan diproses secara optimal.

Bacaan Lainnya

PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Balongan kini memanfaatkan fasilitas Single Point Mooring (SPM) berkapasitas 165.000 deadweight tonnage (DWT) melalui kerja sama dengan PT Pertamina EP Zona 7.

Fasilitas tersebut menjadi bagian penting dalam rantai distribusi minyak mentah dari lapangan produksi menuju fasilitas pengolahan.

Dengan infrastruktur yang tersedia, minyak Jatibarang dapat dikirim menggunakan kapal tanker berkapasitas besar sebelum dialirkan menuju kilang melalui jaringan pipa bawah laut.

Executive General Manager PT Pertamina Patra Niaga RU Balongan, Yulianto Triwibowo, mengatakan pemanfaatan bersama fasilitas SPM menjadi salah satu cara untuk meningkatkan efisiensi aset di lingkungan Pertamina Group.

“Kerja sama ini menjadi strategi untuk mengoptimalkan infrastruktur dan saling mendukung antarunit Pertamina,” ujar Yulianto dalam keterangannya, Sabtu (15/8/2026).

Menurut dia, Kilang Balongan tidak hanya mengandalkan minyak mentah dari Duri dan Minas di Riau seperti pada periode awal operasionalnya.

Saat ini, minyak mentah dari wilayah sekitar kilang, termasuk produksi Jatibarang di Indramayu, juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pengolahan.

Pemanfaatan crude oil dari dalam negeri tersebut dinilai memberikan manfaat ganda. Selain menjaga keberlangsungan pasokan bahan baku kilang, langkah tersebut berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap minyak mentah dari luar negeri.

Yulianto berharap sinergi antara RU Balongan dan Pertamina EP dapat memberikan dampak positif terhadap kinerja perusahaan sekaligus memperkuat efisiensi pengadaan bahan baku.

“Harapannya kerja sama ini meningkatkan margin sekaligus menekan kebutuhan impor crude,” katanya.

SPM 165.000 DWT merupakan fasilitas sandar terapung yang berada di perairan lepas pantai. Lokasinya sekitar 15 hingga 18 kilometer dari garis daratan Balongan dan dirancang untuk mendukung kegiatan bongkar muat minyak mentah dari kapal tanker berukuran besar.

Setelah proses bongkar muat berlangsung, crude oil kemudian dikirim menuju kompleks kilang menggunakan pipa yang berada di bawah laut.

Sistem tersebut memungkinkan pengiriman minyak mentah berlangsung tanpa harus membawa kapal tanker hingga mendekati fasilitas kilang di daratan.

Aspek keselamatan juga menjadi perhatian dalam pengoperasian fasilitas tersebut. Personel gabungan RU Balongan secara rutin melakukan patroli dan pemeriksaan terhadap SPM untuk memastikan seluruh fasilitas berada dalam kondisi aman serta mencegah potensi kebocoran minyak yang dapat menimbulkan pencemaran perairan.

Dari sisi hulu, General Manager Pertamina EP Zona 7 Jufrianson Alfredo Sinaga menilai keberadaan SPM berkapasitas besar memberikan kepastian tambahan bagi penyaluran minyak Jatibarang.

Menurutnya, minyak mentah hasil produksi dapat diarahkan menuju fasilitas pengolahan yang membutuhkan pasokan, sehingga kesinambungan antara kegiatan produksi dan pengolahan dapat tetap terjaga.

“Produksi crude dan kapasitas kilang perlu berjalan seimbang agar minyak yang dihasilkan bisa terserap,” kata Jufrianson.

Konektivitas antara lapangan produksi dengan fasilitas pengolahan menjadi salah satu faktor penting dalam memperkuat rantai pasok energi nasional.

Ketika minyak mentah domestik dapat langsung dimanfaatkan oleh kilang, kebutuhan untuk mendatangkan crude dari luar negeri berpeluang ikut ditekan.

Optimalisasi SPM Balongan sekaligus menunjukkan bagaimana pemanfaatan infrastruktur secara bersama dapat memperkuat sinergi di dalam ekosistem Pertamina.

Produksi minyak dari lapangan domestik tidak berhenti pada sisi hulu, tetapi dapat diteruskan ke fasilitas pengolahan untuk mendukung penyediaan bahan bakar minyak di dalam negeri.

Bagi ketahanan energi nasional, pola seperti ini menjadi penting karena semakin banyak minyak produksi dalam negeri yang dapat diserap kilang, semakin besar pula peluang mengurangi ketergantungan pada pasokan crude impor.

Informasi ekonomi, energi, dan berita terbaru lainnya dapat dibaca melalui JurnalLugas.Com.

(Endarto)

Tombol Google News - JurnalLugas
Baca Juga  Kejagung Tetapkan Riza Chalid Tersangka Korupsi Minyak Mentah Pertamina Rp285 Triliun

Pos terkait