Guterres Marah Besar Zionis Israel Serangan Drone Hantam Pasukan UNIFIL di Lebanon

JurnalLugas.Com — PBB mengecam keras serangan drone Zionis Israel yang nyaris menghantam kontingen Pasukan Perdamaian UNIFIL di Lebanon. Insiden ini disebut sebagai salah satu serangan paling serius terhadap pasukan PBB.

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, pada Rabu (3/9/2025) menyatakan keprihatinan mendalam atas serangan udara Israel yang hampir mengenai kontingen Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL).

Bacaan Lainnya

Menurut keterangan resmi, pesawat tanpa awak (drone) milik Pasukan Pertahanan Israel menjatuhkan granat di sekitar posisi pasukan UNIFIL pada 2 September. Juru bicara PBB, Stephane Dujarric, menegaskan bahwa serangan tersebut sangat membahayakan keselamatan personel penjaga perdamaian.

“Insiden ini termasuk salah satu serangan paling serius terhadap UNIFIL. Satu granat jatuh hanya 20 meter dari personel PBB, sementara tiga lainnya meledak dalam jarak sekitar 100 meter dari pasukan dan kendaraan,” kata Dujarric.

Baca Juga  Kilah AS Israel Hanya Operasi Terbatas Terhadap Hizbullah di Lebanon

Ia menambahkan, “Syukurlah, tidak ada korban luka. Namun, tindakan yang membahayakan nyawa pasukan perdamaian sama sekali tidak bisa diterima.”

PBB Tekankan Tanggung Jawab Semua Pihak

Guterres menegaskan bahwa semua pihak yang terlibat konflik memiliki kewajiban untuk menjamin keselamatan pasukan perdamaian dan instalasi PBB. Ia menuntut agar tidak ada tindakan yang dapat mengancam keberlangsungan misi internasional tersebut.

“Sekjen menekankan pentingnya menjunjung tinggi tanggung jawab dalam memastikan keamanan pasukan penjaga perdamaian,” lanjut Dujarric dalam pernyataannya.

Insiden ini terjadi hanya beberapa hari setelah Dewan Keamanan PBB memperbarui mandat UNIFIL pada 28 Agustus lalu.

UNIFIL dalam Bayang-Bayang Konflik

UNIFIL pertama kali ditempatkan di Lebanon selatan sejak 1978. Mandatnya diperkuat melalui Resolusi DK PBB 1701 setelah perang besar pada 2006 antara Israel dan kelompok bersenjata Hizbullah.

Ketegangan di perbatasan Israel–Lebanon kembali meningkat sejak Oktober 2023, ketika pecah perang antara Israel dan Hamas di Gaza. Konflik tersebut kemudian meluas menjadi perang lintas batas dengan Hizbullah pada September 2024, menewaskan lebih dari 4.000 orang dan melukai sedikitnya 17.000 lainnya.

Baca Juga  Hizbullah Lancarkan Rentetan Roket ke Wilayah Israel Utara Aksi Balasan

Meski gencatan senjata dicapai pada November 2024, serangan udara Israel masih berlangsung hampir setiap hari di Lebanon selatan. Israel beralasan operasi militer itu ditujukan untuk melemahkan aktivitas Hizbullah.

Israel Belum Sepenuhnya Tarik Pasukan

Sesuai kesepakatan internasional, Israel seharusnya menarik seluruh pasukannya dari wilayah Lebanon selatan pada awal 2025. Namun hingga kini, Israel masih mempertahankan kehadiran militer di lima pos perbatasan yang menjadi sumber ketegangan dengan Hizbullah maupun masyarakat lokal.

Situasi ini membuat keberadaan UNIFIL semakin vital untuk menjaga stabilitas dan mencegah eskalasi lebih lanjut. Namun, serangan terbaru justru menegaskan kerentanan pasukan PBB di lapangan.

Baca berita lengkap lainnya hanya di JurnalLugas.Com

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait