JurnalLugas.Com – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali menuai kritik tajam, bukan hanya dari oposisi politik, tetapi juga dari keluarga para sandera yang ditahan Hamas di Gaza. Mereka menilai langkah Netanyahu yang terus mendorong operasi militer besar-besaran justru mencerminkan ego politik, bukan upaya serius menyelamatkan warga Israel yang ditawan.
Kritik dari Keluarga Sandera
Dalam aksi protes di Tel Aviv, keluarga sandera menuduh Netanyahu lebih mementingkan citra kekuatan politiknya ketimbang keselamatan rakyatnya sendiri. “Ia ingin menunjukkan kemenangan militer, tetapi mengabaikan nyawa puluhan sandera yang masih berada di Gaza,” kata seorang kerabat sandera dengan nada geram.
Mereka menegaskan, pilihan Netanyahu untuk melanjutkan serangan justru membuat posisi sandera semakin rentan. Bagi keluarga, setiap bom yang dijatuhkan ke Gaza berarti ancaman baru bagi orang-orang tercinta mereka.
Jalur Diplomasi yang Dikesampingkan
Sejumlah analis menilai Netanyahu sengaja mengesampingkan opsi diplomasi karena ingin menjaga dukungan dari kelompok garis keras di Israel. “Ego politik Netanyahu terlihat jelas. Ia lebih memilih langkah militer agar tak dicap lemah, meski itu mengorbankan sandera,” ujar seorang pengamat Timur Tengah.
Desakan agar Netanyahu membuka jalur negosiasi semakin menguat. Namun, hingga kini pemerintahannya tetap menekankan strategi militer sebagai jalan utama.
Krisis Kemanusiaan dan Tekanan Internasional
Di sisi lain, krisis kemanusiaan di Gaza semakin parah. Laporan lembaga bantuan internasional menyebutkan kelaparan meluas, sementara rumah sakit kewalahan menampung korban. Dunia internasional mulai menekan Israel untuk menahan diri dan lebih mengedepankan penyelesaian politik.
Namun, Netanyahu tetap berkeras. Baginya, operasi militer adalah cara mempertahankan “wibawa keamanan Israel.” Sayangnya, kebijakan tersebut dinilai publik domestik sebagai bentuk pengabaian terhadap hak hidup para sandera.
Keluarga Sandera Tidak Akan Diam
Para keluarga menegaskan akan terus turun ke jalan hingga pemerintah benar-benar mendengar tuntutan mereka. “Kami tidak akan berhenti bersuara. Sandera bukan pion politik,” seru salah seorang aktivis keluarga korban.
Bagi mereka, setiap hari yang berlalu tanpa solusi berarti kesempatan hidup sandera semakin kecil. Ego Netanyahu kini dipandang sebagai tembok besar yang menghalangi tercapainya pembebasan mereka.
Baca berita selengkapnya di 👉 JurnalLugas.Com






