JurnalLugas.Com – Harga minyak mentah global jatuh sekitar 3 persen pada perdagangan awal pekan ini. Penurunan tersebut dipicu rencana OPEC+ untuk menambah produksi serta kembalinya ekspor minyak dari wilayah Kurdistan, Irak, menuju Turki.
Minyak Brent dan WTI Kompak Melemah
Kontrak berjangka minyak Brent merosot USD 2,16 atau sekitar 3,1 persen menjadi USD 67,97 per barel. Sementara itu, minyak WTI Amerika Serikat terkoreksi USD 2,27 atau 3,45 persen ke posisi USD 63,45 per barel.
Aksi jual terjadi setelah pekan lalu harga sempat menguat akibat serangan drone Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia yang memicu kekhawatiran berkurangnya ekspor dari Moskow.
OPEC+ Fokus Tambah Produksi
Aliansi negara pengekspor minyak beserta mitranya dijadwalkan menggelar pertemuan pada Minggu mendatang. Menurut informasi internal, mereka tengah menyiapkan tambahan produksi setidaknya 137.000 barel per hari mulai November.
Saat ini, produksi OPEC+ dilaporkan masih lebih rendah sekitar 500.000 barel per hari dari target resmi. Langkah menambah suplai dinilai sebagai strategi menjaga pangsa pasar di tengah persaingan global.
Ekonom energi Claudio G. menilai fokus OPEC+ pada ekspansi produksi justru memperlemah keseimbangan pasar. “Kebijakan ini berisiko memunculkan kembali kekhawatiran oversupply di pasar minyak dunia,” ujarnya.
Ekspor Kurdistan Tekan Harga
Selain kebijakan OPEC+, kembalinya ekspor minyak dari wilayah Kurdistan menuju pelabuhan Ceyhan di Turki turut menambah tekanan. Aliran minyak yang terhenti lebih dari dua tahun itu kini kembali dengan kapasitas awal sekitar 150.000–160.000 barel per hari, dan berpotensi meningkat hingga 230.000 barel per hari.
Tambahan pasokan ini memperbesar risiko kelebihan suplai di pasar internasional, sehingga harga semakin sulit bertahan di level tinggi.
Prospek Pasar Energi Global
Ke depan, harga minyak masih akan dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Keputusan final OPEC+ terkait produksi, perkembangan konflik Rusia–Ukraina, hingga dinamika geopolitik Timur Tengah diperkirakan menjadi penentu utama arah pergerakan.
Meski tekanan harga cenderung kuat akibat suplai melimpah, potensi gejolak geopolitik bisa sewaktu-waktu memicu kenaikan kembali. Pelaku pasar disarankan terus mencermati perkembangan kebijakan produksi serta kondisi keamanan global yang memengaruhi rantai pasok energi.
Berita ekonomi terbaru lainnya bisa dibaca di JurnalLugas.Com.






