Waspada! Malware Pencuri Data Kini Menyebar Lewat Situs Unduhan dan Platform Kerja

JurnalLugas.Com — Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengingatkan masyarakat dan pelaku usaha akan meningkatnya ancaman kejahatan siber, khususnya pencurian data pribadi melalui penyebaran malware yang disisipkan pada tautan unduhan serta platform pencari kerja.

Wakil Ketua Komite Tetap Keamanan Siber dan Perlindungan Infrastruktur Kritis Kadin Indonesia, Dea Saka Kurnia Putra, menjelaskan bahwa serangan siber kini semakin terfokus pada upaya mencuri langsung data sensitif pengguna.

Bacaan Lainnya

“Peningkatan kasusnya luar biasa — sekitar 27,5 juta korban tercatat, dan menariknya lebih dari separuh (54%) di antaranya disebabkan oleh malware pencuri data atau Info Stealer, bukan oleh peretasan sistem,” ujar Dea di Jakarta Selatan, Rabu (29/10).

Modus Baru: Tautan Unduhan Palsu dan Aplikasi Bajakan

Menurut Dea, metode paling sering digunakan pelaku kejahatan digital adalah dengan menyisipkan malware ke dalam tautan unduhan palsu. Begitu korban mengunduh file yang disamarkan sebagai aplikasi, sistem mereka langsung disusupi oleh program pencuri data.

“Biasanya pelaku membuat tautan yang terlihat resmi. Namun ketika file diekstrak, malware berjalan di latar belakang tanpa disadari korban,” jelasnya.

Ia menambahkan, praktik ini marak terjadi di situs penyedia gim dan aplikasi bajakan, di mana pengguna tergiur unduhan gratis tanpa menyadari risikonya.

Platform Pencari Kerja Jadi Target Baru

Selain lewat unduhan, modus lain yang kini ramai digunakan adalah dengan menyusupkan malware ke dalam dokumen lamaran kerja di situs rekrutmen. Saat pelamar membuka atau mengisi formulir digital, malware langsung aktif dan mulai mengumpulkan informasi penting, termasuk data finansial.

“File-nya terlihat seperti formulir lamaran biasa, bahkan berformat PDF. Tapi di belakang layar, Info Stealer sudah bekerja,” kata Dea.

Industri Pencurian Data Terus Tumbuh

Dea juga mengungkapkan, aktivitas kelompok kriminal siber yang mengoperasikan malware jenis ini terus meningkat. Pada 2022 saja, tercatat rata-rata muncul 15 kelompok baru setiap bulan, menandakan bisnis gelap ini sangat menguntungkan di dunia maya.

“Bayangkan, ada 15 grup baru tiap bulan. Ini menunjukkan betapa besarnya pasar kejahatan data,” tegasnya.

Kadin mendorong masyarakat untuk lebih berhati-hati saat mengunduh file, memeriksa keaslian tautan, serta menghindari platform tidak resmi. Sementara bagi perusahaan, peningkatan kesadaran keamanan digital dan pelatihan siber dinilai menjadi langkah strategis untuk meminimalkan potensi serangan.

Sumber berita dan informasi digital terkini dapat dibaca di JurnalLugas.Com

Tombol Google News - JurnalLugas
Baca Juga  PT China Chengda Engineering Diperas Oknum Kadin dan LSM Polda Banten Tetapkan 5 Tersangka

Pos terkait