JurnalLugas.Com — Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat fluktuasi signifikan di pasar saham sepanjang pekan perdagangan 3–7 November 2025. Sejumlah emiten mengalami koreksi tajam, meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru menguat.
Data BEI menunjukkan, PT Multitrend Indo Tbk (BABY) menjadi saham dengan penurunan terdalam, terjun 38,32 persen dari Rp535 menjadi Rp330 per saham. “BABY mengalami tekanan besar pekan ini, seiring sentimen negatif di sektor terkait,” ujar narasumber BEI, yang enggan disebutkan namanya.
Saham PT First Media Tbk (KBLV) juga terkoreksi signifikan, turun 26,42 persen ke Rp142. Disusul PT Dwi Guna Laksana Tbk (DWGL) yang anjlok 25,97 persen ke Rp342. Saham PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE) turun 25,81 persen menjadi Rp8.550, sementara PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST) melemah 20,13 persen ke posisi Rp595 per saham.
Tekanan serupa dialami PT Remala Abadi Tbk (DATA) yang turun 20 persen menjadi Rp4.700. PT Sumber Mineral Global Abadi Tbk (SMGA) dan PT FKS Multi Agro Tbk (FISH) masing-masing melemah 15,33 persen ke Rp116 dan 14,50 persen ke Rp1.680.
Meskipun beberapa saham mencatat penurunan tajam, pasar secara keseluruhan tetap menunjukkan tren positif. IHSG ditutup naik 2,83 persen ke level 8.394,59 dibanding 8.163,88 pekan sebelumnya. Kapitalisasi pasar bertambah 3,09 persen menjadi Rp15.316 triliun, meski rata-rata nilai transaksi harian turun 22,46 persen menjadi Rp17,55 triliun.
Berikut daftar saham top losers pekan ini menurut statistik BEI (8/11):
- PT Multitrend Indo Tbk (BABY): -38,32% ke Rp330
- PT First Media Tbk (KBLV): -26,42% ke Rp142
- PT Dwi Guna Laksana Tbk (DWGL): -25,97% ke Rp342
- PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE): -25,81% ke Rp8.550
- PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST): -20,13% ke Rp595
- PT Remala Abadi Tbk (DATA): -20% ke Rp4.700
- PT Sumber Mineral Global Abadi Tbk (SMGA): -15,33% ke Rp116
- PT FKS Multi Agro Tbk (FISH): -14,50% ke Rp1.680
- PT Ketrosden Triasmitra Tbk (KETR): -14,16% ke Rp400
- PT Asri Karya Lestari Tbk (ASLI): -13,50% ke Rp173
Meski sejumlah saham mengalami tekanan tajam, para analis menilai pasar Indonesia tetap menarik bagi investor jangka panjang. “Koreksi saham tertentu menjadi peluang akumulasi, terutama bagi emiten dengan fundamental kuat,” tambah narasumber BEI.
Informasi lengkap dan update pasar saham terbaru bisa diakses di JurnalLugas.Com.






