JurnalLugas.Com — Dalam momentum diplomatik yang jarang terjadi, Presiden Suriah Ahmad al Sharaa mengadakan pertemuan resmi dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Gedung Putih. Pertemuan yang berlangsung hampir dua jam itu digambarkan sebagai “konstruktif” dan menandai era baru hubungan bilateral antara kedua negara setelah puluhan tahun ketegangan.
Menurut Menteri Luar Negeri Suriah Asaad al Shaibani, pembicaraan tersebut mencakup “seluruh aspek isu Suriah,” mulai dari rekonstruksi pascaperang, stabilitas kawasan, hingga upaya menghapus hambatan yang selama ini menghambat proses pemulihan nasional.
“Rakyat Suriah berhak atas masa depan yang lebih baik,” ujar Shaibani dalam pernyataan di platform X pada Senin malam.
Fokus Pertemuan: Sanksi, Koalisi Anti-ISIS, dan Normalisasi Regional
Sumber diplomatik menyebutkan, salah satu agenda utama adalah pencabutan sanksi ekonomi Amerika terhadap Suriah yang diberlakukan sejak era pemerintahan Bashar al-Assad. Langkah tersebut dinilai penting untuk menghidupkan kembali ekonomi Suriah yang terpukul akibat lebih dari 13 tahun konflik.
Trump juga dikabarkan tengah menjajaki peluang bagi Suriah untuk bergabung secara resmi dalam koalisi internasional anti-ISIS (Daesh). Isu normalisasi hubungan antara Suriah dan Israel turut menjadi topik pembahasan, sejalan dengan kebijakan luar negeri baru pemerintahan Trump yang berorientasi pada stabilitas Timur Tengah.
Meski Gedung Putih belum mengeluarkan pernyataan resmi, sejumlah pejabat menilai pertemuan ini merupakan sinyal kuat perubahan arah diplomasi Washington terhadap Damaskus.
Langkah Lanjutan: Mencairnya Hubungan Dua Negara
Kunjungan ini menjadi yang pertama dilakukan oleh seorang pemimpin Suriah ke Gedung Putih sejak kemerdekaan negara itu pada 1946.
Sebelumnya, pada Mei 2025, Trump sempat bertemu Sharaa di Arab Saudi dalam forum tingkat tinggi. Seusai pertemuan tersebut, Trump menyebut Sharaa sebagai “pemimpin muda yang tangguh dan visioner”, menandakan perubahan sikap yang tajam dari permusuhan masa lalu antara kedua negara.
Tom Barrack, Utusan Khusus AS untuk Suriah sekaligus Duta Besar AS untuk Turki, menegaskan bahwa kedua pihak tengah menyusun dokumen kerja sama yang memungkinkan Damaskus bergabung dalam koalisi anti-ISIS.
“Kesepakatan itu sedang difinalisasi secara tertutup,” kata Barrack di sela forum keamanan di Bahrain pekan lalu.
Babak Baru Diplomasi Timur Tengah
Pertemuan Sharaa–Trump dipandang sebagai langkah strategis menuju rekonsiliasi dan integrasi Suriah dalam komunitas internasional. Dengan berakhirnya perang saudara dan langkah awal menuju pemulihan ekonomi, Suriah kini menghadapi peluang untuk membuka kembali hubungan diplomatik yang selama ini beku.
Jika kesepakatan terkait sanksi dan keamanan regional benar-benar terealisasi, maka pertemuan ini dapat menjadi titik balik sejarah bagi kedua negara dan kawasan Timur Tengah secara keseluruhan.
Sumber berita eksklusif dan analisis geopolitik terkini kunjungi: JurnalLugas.Com






