JurnalLugas.Com — Serangan udara kembali mengguncang Lebanon selatan dan timur pada Jumat 12 Desember 2025, waktu setempat. Seorang sumber militer Lebanon mengungkapkan bahwa pesawat tempur Israel melancarkan bombardir ke sejumlah wilayah secara hampir bersamaan, memperburuk situasi keamanan yang telah rapuh selama beberapa pekan terakhir.
Menurut sumber tersebut, area Jarmaq, Jbaa, Barij, Rihan, Ansar–Zrarieh, Tebnine, Zelaya, hingga lembah Wadi-Humein dan Roumine menjadi sasaran serangan intensif. “Beberapa di antaranya mengalami kerusakan luas akibat hantaman bertubi-tubi,” ujar sumber yang enggan disebutkan namanya.
Israel Klaim Sasar Basis Pelatihan Pasukan Radwan
Militer Israel menyatakan operasi itu menyasar sejumlah titik yang mereka sebut sebagai fasilitas militer Hizbullah, termasuk area pelatihan pasukan khusus Radwan, unit elite yang berada di bawah komando gerakan Syiah Lebanon tersebut.
Seorang pejabat keamanan Israel yang dikutip media setempat menyebut serangan dilakukan untuk “mengganggu pergerakan dan kemampuan tempur Hizbullah”. Namun, pernyataan itu dibantah oleh pihak Lebanon yang menilai serangan tersebut sebagai pelanggaran agresif terhadap wilayah mereka.
Lebanon: “Pelanggaran Sistematis Kedaulatan Negara”
Pemerintah Lebanon menegaskan bahwa Israel terus melakukan pelanggaran kedaulatan secara berulang meskipun sudah ada kesepakatan gencatan senjata yang berlaku sejak November 2024.
Seorang pejabat Lebanon mengatakan bahwa tindakan Israel bukan hanya serangan semata, tetapi bentuk pendudukan terselubung. “Israel mempertahankan posisi militer di setidaknya lima titik strategis di selatan, termasuk bagian utara Desa Ghajar. Ini jelas melanggar Resolusi DK PBB 1701,” ujarnya.
Resolusi tersebut mengatur penghentian permusuhan dan penarikan pasukan Israel dari wilayah Lebanon pascaperang 2006. Namun hingga kini, Beirut menilai implementasinya tidak pernah benar-benar dijalankan oleh Tel Aviv.
Israel Tegaskan Tidak Akan Menghentikan Serangan
Di sisi lain, Israel kembali menegaskan bahwa serangan ke Lebanon hanya menyasar infrastruktur militer Hizbullah. Pihak militer Israel juga menambahkan bahwa mereka tidak akan menghentikan operasi sampai “ancaman dari Hizbullah dapat dihilangkan”.
“Target utama kami adalah struktur komando dan para petinggi sayap militer Hizbullah,” kata seorang juru bicara militer Israel.
Ketegangan Regional Terus Memanas
Serangan terbaru ini kembali mempercepat eskalasi di perbatasan Israel–Lebanon, yang selama setahun terakhir menjadi salah satu titik konflik paling sensitif di Timur Tengah.
Pengamat keamanan regional menilai bahwa situasi bisa berubah menjadi konflik terbuka jika kedua belah pihak tidak menahan diri. Mereka memperingatkan bahwa setiap serangan balasan berpotensi memicu konsekuensi yang jauh lebih besar, baik di Lebanon maupun wilayah lain yang terkait dengan konflik tersebut.
Baca berita dan analisis terbaru lainnya di: https://JurnalLugas.Com






