JurnalLugas.Com – Perum Bulog menegaskan komitmennya dalam memperkuat ketahanan pangan nasional dengan menargetkan penyerapan empat juta ton setara beras dan satu juta ton jagung petani sepanjang 2026. Target ini merupakan bagian dari rencana strategis perusahaan BUMN pangan tersebut.
Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menyebut bahwa target penyerapan beras ditetapkan berdasarkan rapat koordinasi terbatas di Kementerian Koordinator Bidang Pangan. Langkah ini bertujuan menjaga stok nasional sekaligus memastikan hasil panen petani terserap optimal.
“Rencana strategis Bulog 2026 dimulai dengan serapan empat juta ton beras sesuai keputusan Rakortas,” ungkap Rizal, Jumat (2/1/2026).
Selain beras, Bulog juga menyiapkan penyerapan jagung sebesar satu juta ton guna memperkuat cadangan pangan nasional dan mendukung stabilitas harga pakan ternak di dalam negeri.
Untuk mendukung target tersebut, Bulog berencana membangun 100 infrastruktur pascapanen, termasuk gudang baru, rice milling unit (RMU), dan fasilitas pendukung lainnya di berbagai sentra produksi padi.
Penyaluran Bantuan Pangan dan Stabilitas Harga
Selain serapan, Bulog menargetkan distribusi bantuan pangan beras sekitar 720 ribu ton selama empat bulan kepada 18 juta penerima manfaat. Program ini diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat rentan sekaligus mengendalikan tekanan harga pangan sepanjang tahun.
Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras ditargetkan mencapai 1,5 juta ton sepanjang 2026. Penyaluran SPHP akan disesuaikan pada puncak panen Maret, April, dan Agustus untuk mencegah kelebihan pasokan di daerah sentra produksi, sementara wilayah non-sentra tetap menerima pasokan normal.
Bulog juga menyiapkan cadangan beras untuk keadaan darurat sebesar 25 ribu ton sebagai respons cepat terhadap bencana atau kondisi mendesak lainnya.
Kinerja Bulog 2025 sebagai Fondasi Strategis
Hingga 31 Desember 2025, Bulog mencatat pengadaan gabah setara beras sebanyak 3.191.969 ton. Angka ini berasal dari penyerapan 4.537.490 ton Gabah Kering Panen (GKP), 6.863 ton Gabah Kering Giling (GKG), dan 765.504 ton beras. Pencapaian ini menjadi fondasi strategis dalam memperkuat Cadangan Beras Pemerintah (CBP) serta menjaga kesinambungan produksi dan pendapatan petani.
Dalam pengadaan jagung, Bulog mencatat jumlah 101.968 ton, terdiri atas 101.770 ton melalui skema PSO dan 198 ton secara komersial, sebagai langkah menjaga stabilitas harga dan kelangsungan pasokan jagung nasional.
Distribusi bantuan pangan sepanjang 2025 hampir mencapai 785 ribu ton, menjadi instrumen perlindungan sosial bagi masyarakat rentan. Penyaluran SPHP beras mencapai 802.939 ton dan SPHP jagung 51.211 ton, efektif menahan gejolak harga di tingkat konsumen.
Stok PSO Bulog tercatat 3,25 juta ton hingga akhir 2025, setelah mencapai rekor tertinggi 4,2 juta ton pertengahan tahun. Dalam situasi bencana, Bulog menyalurkan 14.227 ton bantuan ke Sumatera, dengan rincian Aceh 8.676 ton, Sumatera Utara 4.482 ton, dan Sumatera Barat 1.069 ton.
Dengan strategi ini, Bulog menegaskan perannya tidak hanya sebagai pengendali stok pangan, tetapi juga sebagai penopang stabilitas harga dan kesejahteraan petani di seluruh Indonesia.
Baca berita lainnya: JurnalLugas.Com






