Mayoritas Warga AS Merasa Hidup Makin Sulit di Era Trump, Ekonomi Terpuruk

JurnalLugas.Com – Dukungan publik terhadap pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menghadapi tantangan dari persoalan ekonomi. Jajak pendapat terbaru menunjukkan lebih dari separuh pemilih AS merasa kondisi keuangan mereka justru memburuk sejak Trump kembali menduduki Gedung Putih pada Januari 2025.

Survei yang dirilis pada Minggu, 16 Agustus 2026, itu dilakukan oleh Focaldata, lembaga riset yang berbasis di London, untuk Financial Times. Hasilnya memperlihatkan adanya kegelisahan ekonomi yang cukup luas di tengah masyarakat Amerika.

Bacaan Lainnya

Lebih dari 53 persen pemilih terdaftar dalam survei tersebut menyatakan kondisi keuangan mereka memburuk sejak Trump kembali menjadi presiden. Angka itu menjadi sinyal penting karena persoalan ekonomi dan biaya hidup selama ini merupakan isu yang sangat menentukan dalam politik Amerika.

Menariknya, ketidakpuasan tersebut tidak hanya datang dari pemilih yang berseberangan dengan Trump. Hampir 57 persen pemilih independen mengatakan kondisi finansial mereka memburuk. Bahkan, hampir seperempat pemilih yang mengidentifikasi diri sebagai pendukung Partai Republik turut menyampaikan penilaian serupa.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa persoalan ekonomi mulai menjadi sumber kegelisahan lintas kelompok politik. Ketika biaya kebutuhan sehari-hari dirasakan semakin berat, loyalitas terhadap partai maupun kandidat berpotensi ikut terpengaruh.

Survei nasional itu juga memperlihatkan Partai Demokrat memperoleh keunggulan dalam penilaian publik terkait kemampuan menangani lapangan kerja dan perekonomian. Kondisi ini cukup penting mengingat isu pekerjaan dan ekonomi selama bertahun-tahun menjadi salah satu bidang yang sering dianggap sebagai kekuatan politik Partai Republik.

Baca Juga  Trump Ejek BRICS Melemah Ancam Tarif 10 Persen Demi Dominasi Dolar AS

Persoalan biaya hidup menjadi semakin sensitif karena masyarakat tidak hanya melihat angka pertumbuhan ekonomi secara makro. Mereka lebih merasakan perubahan harga ketika membeli makanan, mengisi bahan bakar kendaraan, membayar layanan kesehatan, maupun memenuhi kebutuhan rumah tangga lainnya.

Data inflasi terbaru Amerika Serikat memang menunjukkan tekanan harga mulai melandai pada Juli. Namun, perlambatan tersebut belum otomatis membuat masyarakat merasa lebih sejahtera.

Biro Statistik Tenaga Kerja AS mencatat indeks harga konsumen meningkat 0,1 persen secara bulanan pada Juli. Dalam perhitungan tahunan, inflasi masih mencapai 3,4 persen.

Angka tersebut menunjukkan bahwa meskipun laju kenaikan harga tidak setinggi periode tertentu sebelumnya, biaya hidup tetap berada pada tingkat yang dirasakan berat oleh sebagian masyarakat.

Senior fellow Brookings Institution Darrell West menilai persoalan tersebut berkaitan dengan kemampuan pendapatan masyarakat dalam mengejar kenaikan biaya kebutuhan hidup.

Menurut West, tekanan inflasi membuat kenaikan upah belum sepenuhnya mampu mengimbangi kebutuhan masyarakat. Akibatnya, sebagian warga merasa semakin tertinggal ketika harus membayar kebutuhan makanan, bensin, dan layanan kesehatan.

Situasi itu kemudian membentuk persepsi publik terhadap kondisi ekonomi. Bagi masyarakat, indikator ekonomi yang membaik tidak selalu berarti kehidupan rumah tangga mereka ikut membaik.

Perbedaan antara indikator ekonomi dan pengalaman sehari-hari masyarakat inilah yang berpotensi menjadi persoalan politik bagi pemerintahan Trump.

Christopher Galdieri, profesor ilmu politik di Saint Anselm College, melihat sentimen negatif terhadap ekonomi sebagai persoalan yang cukup luas. Ia menilai ketidakpuasan masyarakat tidak selalu berubah hanya karena pemerintah menunjukkan indikator ekonomi yang positif.

Dengan kata lain, persepsi masyarakat terhadap daya beli dan biaya hidup dapat menjadi faktor yang sama pentingnya dengan data ekonomi resmi.

Baca Juga  Trump Kerahkan Kapal Selam Nuklir Usai Perang Kata-Kata dengan Medvedev Meledak

Hal tersebut menjadi perhatian khusus menjelang pemilihan paruh waktu Amerika Serikat. Jika ketidakpuasan ekonomi bertahan, isu biaya hidup berpotensi menjadi salah satu senjata utama Partai Demokrat untuk menyerang kebijakan pemerintahan Trump dan kandidat Partai Republik.

Bagi Trump, tantangan tersebut bukan semata bagaimana menjaga indikator ekonomi tetap positif. Persoalan yang lebih sulit adalah memastikan masyarakat benar-benar merasakan perbaikan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Harga barang, kemampuan membayar tagihan, kondisi pasar kerja dan pertumbuhan pendapatan akan terus menjadi ukuran yang langsung dirasakan pemilih.

Jika kesenjangan antara statistik ekonomi dan pengalaman masyarakat semakin lebar, kepuasan terhadap pemerintahan dapat ikut tertekan.

Dalam politik elektoral Amerika, kondisi tersebut berpotensi menjadi faktor yang menentukan pilihan pemilih ketika mereka kembali datang ke tempat pemungutan suara.

Pada akhirnya, angka inflasi yang melandai belum tentu cukup untuk meredakan kegelisahan publik. Pemerintahan Trump masih menghadapi pekerjaan besar untuk meyakinkan masyarakat bahwa kebijakan ekonominya mampu meningkatkan daya beli dan memperbaiki kondisi kehidupan rumah tangga.

Jajak pendapat terbaru tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan ekonomi tidak hanya diukur melalui angka makro, tetapi juga dari seberapa jauh masyarakat merasakan perubahan positif dalam kehidupan mereka.

Baca berita dan informasi terbaru lainnya hanya di JurnalLugas.Com.

(Dahlan)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait