JurnalLugas.Com — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mencapai titik krusial setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel dilaporkan menyepakati jadwal serangan ke Iran hanya sepekan sebelum perundingan nuklir di Jenewa digelar. Informasi ini terungkap dari sejumlah laporan media internasional yang mengutip pejabat tinggi AS.
Kesepakatan tersebut menetapkan Sabtu, 28 Februari 2026 sebagai hari pelaksanaan serangan. Tanggal itu berdekatan dengan agenda penting di Teheran, yakni pertemuan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, bersama para pembantu seniornya di kompleks pemerintahan.
Diplomasi Berjalan, Opsi Militer Disiapkan
Sumber internal menyebutkan, keputusan itu diambil meski jalur diplomasi tetap ditempuh. Menantu Presiden AS Donald Trump, yakni Jared Kushner, bersama utusan khusus AS Steve Witkoff, dikabarkan menilai peluang tercapainya kesepakatan dalam perundingan Jenewa sangat kecil.
Namun demikian, keduanya tetap menghadiri forum tersebut untuk menjaga persepsi bahwa Washington masih membuka ruang dialog.
Seorang pejabat yang enggan disebutkan namanya mengatakan, “Kami melihat jarak posisi kedua pihak masih terlalu jauh. Tetapi absennya AS justru akan memperburuk situasi.”
Dalam pertemuan itu, Kushner dan Witkoff disebut sempat menghubungi Wakil Presiden AS JD Vance untuk melaporkan perkembangan terbaru, termasuk kebuntuan yang terjadi dalam pembahasan teknis program nuklir Teheran.
Perundingan Jenewa Berakhir Tanpa Terobosan
Putaran ketiga perundingan AS-Iran mengenai program nuklir Teheran berakhir Kamis malam waktu setempat di Jenewa. Tidak ada pernyataan bersama yang menunjukkan kemajuan signifikan.
Hanya dua hari setelah perundingan berakhir, pada Sabtu, AS bersama Israel melancarkan serangkaian serangan ke sejumlah titik strategis di Iran, termasuk di ibu kota Teheran.
Target serangan dilaporkan mencakup fasilitas militer dan infrastruktur yang diduga terkait pengembangan nuklir. Namun, laporan dari media pemerintah Iran menyebutkan adanya korban sipil serta kerusakan di area permukiman.
Iran Konfirmasi Kematian Khamenei
Televisi pemerintah Iran kemudian mengumumkan bahwa Ayatollah Ali Khamenei meninggal dunia akibat dampak serangan tersebut. Informasi ini segera memicu reaksi keras dari berbagai faksi politik dan militer di Iran.
Seorang analis kawasan Timur Tengah menyatakan singkat, “Jika konfirmasi ini akurat, dampaknya akan sangat besar, bukan hanya bagi Iran, tetapi juga stabilitas regional.”
Serangan Balasan dan Risiko Perang Terbuka
Sebagai respons, Iran meluncurkan serangan rudal ke sejumlah wilayah Israel serta fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah. Sirene peringatan berbunyi di beberapa kota Israel, sementara pangkalan militer AS di kawasan Teluk meningkatkan status siaga.
Eskalasi ini meningkatkan kekhawatiran akan pecahnya konflik berskala luas. Sejumlah negara di Eropa dan Asia menyerukan penahanan diri serta mendesak kembali ke meja perundingan.
Pengamat keamanan internasional menilai bahwa keputusan menyerang di tengah proses diplomasi menunjukkan perubahan pendekatan strategis Washington dan Tel Aviv terhadap isu nuklir Iran.
Respons Internasional
Krisis ini berpotensi mengguncang pasar energi global, mengingat Iran merupakan salah satu produsen minyak utama dunia. Harga minyak mentah dilaporkan bergerak fluktuatif menyusul kabar serangan dan balasan militer.
Di sisi lain, Dewan Keamanan PBB dijadwalkan menggelar sidang darurat guna membahas situasi yang berkembang cepat tersebut.
Dengan dinamika yang terus berubah, dunia kini menanti langkah selanjutnya dari Washington, Tel Aviv, dan Teheran. Apakah jalur diplomasi masih memiliki ruang, atau kawasan Timur Tengah kembali memasuki babak konflik berkepanjangan?
Ikuti perkembangan berita geopolitik internasional dan analisis mendalam lainnya hanya di JurnalLugas.Com
(HD)






