JurnalLugas.Com – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan pasukan militernya telah menenggelamkan sembilan kapal perang Iran dan melumpuhkan sebagian besar pusat komando angkatan laut negara tersebut. Klaim itu disampaikan melalui akun media sosial resminya, Minggu (1/3), di tengah eskalasi konflik yang terus meningkat di kawasan Teluk.
“Sembilan kapal Angkatan Laut Iran sudah kami hancurkan, beberapa di antaranya merupakan aset strategis. Fasilitas komando utama mereka juga telah kami lumpuhkan,” tulis Trump. Ia menambahkan bahwa operasi militer masih berlangsung dan armada Iran yang tersisa kini menjadi target berikutnya.
Operation Epic Fury dan Serangan ke Teluk Oman
Komando Pusat Militer AS, United States Central Command (CENTCOM), menyebut operasi bertajuk Operation Epic Fury dimulai pada Sabtu (28/2) waktu setempat. Salah satu target awal adalah kapal korvet kelas Jamaran milik Iran yang berlabuh di Chah Bahar, Teluk Oman.
“Target laut berhasil dilumpuhkan dan saat ini kapal tersebut tidak lagi operasional,” kata pejabat CENTCOM dalam pernyataan singkat.
Selain serangan laut, lebih dari 1.000 sasaran militer disebut telah dihantam, termasuk fasilitas yang dikaitkan dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC). Pesawat pengebom siluman B-2 dikerahkan untuk menghancurkan instalasi rudal balistik yang memiliki sistem pertahanan berlapis.
Klaim Korban dan Bantahan Serangan Balasan
Dalam wawancara dengan Fox News, Trump juga mengungkapkan bahwa puluhan pejabat tinggi Iran tewas dalam rangkaian serangan tersebut. “Kami menargetkan struktur komando penting mereka,” ujarnya singkat.
Di sisi lain, Iran mengklaim telah menyerang kapal induk USS Abraham Lincoln dengan rudal balistik. Namun CENTCOM membantah tegas laporan tersebut. “Kapal induk tetap aman. Proyektil yang ditembakkan tidak mendekati posisi kapal,” jelas pernyataan resmi militer AS.
Meski demikian, militer AS mengakui tiga personelnya gugur dan lima lainnya mengalami luka berat dalam operasi ini.
Situasi di Teheran dan Dampak Geopolitik
Ketegangan terjadi bersamaan dengan suasana duka di Teheran, di mana warga berkumpul untuk mengenang wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Momentum ini menambah sensitivitas situasi politik domestik Iran.
Pengamat hubungan internasional menilai eskalasi ini berpotensi mengguncang stabilitas kawasan Teluk, termasuk jalur perdagangan energi global. “Jika konflik melebar, dampaknya bukan hanya regional, tetapi bisa memicu tekanan ekonomi dunia,” ujar seorang analis keamanan Timur Tengah.
Hingga kini, belum ada tanda-tanda deeskalasi dari kedua pihak. Dunia internasional pun menyerukan penahanan diri guna mencegah konflik terbuka yang lebih luas.
Baca berita geopolitik internasional lainnya hanya di https://www.JurnalLugas.Com
(BW)






