JurnalLugas.Com — Operasi militer gabungan Israel dan Amerika Serikat (AS) ke Iran resmi memasuki hari kelima sejak diluncurkan pada 28 Februari 2026. Serangan bertajuk Epic Fury itu mengguncang geopolitik Timur Tengah setelah dilaporkan menewaskan sejumlah petinggi Iran, termasuk Pemimpin Agung Ayatullah Ali Khamenei.
Namun di balik eskalasi militer tersebut, perhatian dunia tertuju pada satu faktor krusial: keterlibatan kecerdasan buatan (AI) bernama Claude, model bahasa besar yang dikembangkan oleh Anthropic.
Penggunaan AI dalam operasi tempur modern bukanlah hal baru. Akan tetapi, dugaan keterlibatan Claude dalam perencanaan dan analisis serangan ke Iran memunculkan perdebatan global tentang etika, regulasi, dan masa depan peperangan berbasis teknologi.
Awal Mula Ketegangan: Kontrak 200 Juta Dolar yang Berujung Konflik
Kerja sama antara Anthropic dan Pentagon bermula pada Juli 2025 melalui Chief Digital and Artificial Intelligence Office (CDAO). Dalam skema prototipe dua tahun, Departemen Pertahanan AS mengucurkan dana hingga 200 juta dolar AS kepada Anthropic nilai serupa juga diberikan kepada Google, xAI, dan OpenAI.
Tujuannya jelas: mengadaptasi AI generatif untuk kebutuhan militer modern, mulai dari analisis intelijen hingga simulasi medan perang.
Namun kebijakan internal Anthropic melarang penggunaan Claude untuk pengembangan persenjataan atau pengawasan massal. Ketegangan memuncak ketika laporan media menyebut Claude pernah digunakan dalam operasi penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro.
Juru bicara Anthropic menegaskan setiap penggunaan Claude harus mematuhi kebijakan perusahaan, termasuk larangan memproduksi atau memodifikasi senjata secara ilegal serta larangan pelacakan individu tanpa persetujuan.
Dario Amodei vs Pentagon: Garis Batas Etika AI
CEO Anthropic, Dario Amodei, secara terbuka menyatakan keberatan terhadap dua tuntutan utama Pentagon: penggunaan AI untuk senjata otonom penuh dan pengawasan domestik massal terhadap warga Amerika.
Dalam pernyataannya pada 26 Februari 2026, Amodei menegaskan bahwa AI saat ini belum cukup andal untuk mengoperasikan sistem senjata sepenuhnya otonom. Ia juga menilai belum ada kerangka hukum jelas yang mengatur penggunaan AI dalam pengawasan massal.
“Kami mendukung misi intelijen asing yang sah. Tetapi pengawasan domestik massal berbasis AI berisiko terhadap kebebasan fundamental,” ujarnya.
Di sisi lain, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memberikan tenggat waktu hingga 28 Februari 2026 agar Anthropic mencabut pembatasan tersebut. Anthropic menolak.
Pada hari yang sama, Presiden Donald Trump memerintahkan seluruh lembaga federal menghentikan penggunaan produk Anthropic. Dalam unggahan di Truth Social, Trump menyebut sikap Anthropic sebagai “kesalahan fatal”.
Tak lama berselang, Pentagon menandatangani kesepakatan baru dengan OpenAI. CEO Sam Altman mengumumkan kerja sama tersebut dengan jaminan pembatasan penggunaan AI untuk pengawasan domestik.
Peran Claude dalam Serangan ke Iran
Ironisnya, hanya beberapa jam setelah kontraknya diputus, Claude justru dilaporkan tetap digunakan dalam operasi militer AS-Israel di Iran.
Dalam operasi tersebut, AI difungsikan untuk:
- Menganalisis intelijen dalam skala besar
- Mengidentifikasi target strategis
- Mensimulasikan berbagai skenario pertempuran
- Mengoptimalkan waktu serangan simultan
Serangan terkoordinasi yang berlangsung kurang dari 60 detik di sejumlah lokasi di Teheran disebut-sebut sebagai hasil pemrosesan data cepat berbasis AI. Selain Khamenei, tujuh pejabat keamanan tinggi Iran dan sejumlah anggota lingkaran dalamnya turut dilaporkan tewas.
Konflik kemudian meluas ke Lebanon dan kawasan Teluk. Layanan Bulan Sabit Merah Iran melaporkan sedikitnya 787 korban jiwa sejak awal perang.
Popularitas Claude Melejit Usai Putus Kontrak
Di tengah kontroversi geopolitik, Claude justru mengalami lonjakan popularitas signifikan. Sehari setelah Pentagon beralih ke ChatGPT, aplikasi Claude menjadi aplikasi gratis nomor satu di Apple App Store AS pada 3 Maret 2026, menggeser ChatGPT dari posisi puncak.
Lonjakan unduhan juga terjadi di Inggris dan sejumlah negara lain, baik di iOS maupun Android. Tingginya trafik membuat layanan Claude sempat mengalami gangguan teknis dengan lebih dari 1.400 laporan error sebelum akhirnya stabil kembali.
Fenomena ini menunjukkan paradoks era digital: kontroversi politik dapat berujung pada peningkatan eksposur dan pertumbuhan pengguna.
Masa Depan AI dalam Peperangan Modern
Kasus Claude menjadi preseden penting dalam perdebatan global soal regulasi AI militer. Apakah kecerdasan buatan akan menjadi alat strategis utama dalam peperangan masa depan? Atau justru memicu perlombaan senjata digital tanpa batas hukum yang jelas?
Baik Anthropic maupun OpenAI kini berada di persimpangan antara inovasi teknologi, kepentingan negara, dan tekanan opini publik.
Satu hal yang pasti: perang modern tidak lagi hanya ditentukan oleh kekuatan senjata, tetapi juga oleh algoritma dan kecepatan pemrosesan data.
Perkembangan selanjutnya dari konflik ini akan menentukan arah kebijakan global terkait penggunaan AI dalam sistem pertahanan dan keamanan internasional.
Baca ulasan mendalam lainnya hanya di https://JurnalLugas.Com
(WN)






