JurnalLugas.Com — Ketegangan geopolitik di kawasan Teluk kembali meningkat setelah Iran menyatakan siap menghadapi kemungkinan Amerika Serikat mengerahkan pasukan untuk mengawal kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia.
Pernyataan tersebut disampaikan juru bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), Ali Mohammad Naini, yang menegaskan bahwa Iran tidak gentar dengan rencana pengawalan militer Amerika Serikat.
Menurut Naini, Iran bahkan menunggu realisasi rencana tersebut jika benar-benar dilaksanakan oleh Washington.
“Iran siap dan bahkan menyambut kemungkinan pasukan Amerika mengawal kapal tanker di Selat Hormuz. Kami menunggu kehadiran mereka,” ujarnya singkat kepada media penyiaran Iran, Sabtu (7/3).
Selat Hormuz Jadi Titik Panas Perdagangan Energi
Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia. Perairan sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab itu menjadi rute utama pengiriman minyak mentah dan gas alam cair ke berbagai negara.
Berdasarkan data perdagangan energi global, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melintasi Selat Hormuz setiap hari. Gangguan di jalur ini berpotensi memicu gejolak harga energi internasional.
Ketegangan terbaru muncul setelah pemerintah Amerika Serikat mempertimbangkan langkah militer untuk menjamin keamanan pelayaran di wilayah tersebut.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, sebelumnya mengisyaratkan kemungkinan pengerahan armada angkatan laut guna mengawal kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz dalam beberapa pekan mendatang.
Langkah itu disebut sebagai upaya menenangkan pasar energi global yang khawatir terhadap potensi gangguan pasokan minyak.
Dampak Serangan AS dan Israel
Ketegangan di kawasan meningkat tajam setelah Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan militer terhadap Iran pada 28 Februari lalu.
Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan fasilitas dan menimbulkan korban sipil. Teheran kemudian merespons dengan serangan balasan yang menyasar wilayah Israel serta sejumlah fasilitas militer Amerika di kawasan Timur Tengah.
Situasi tersebut memicu kekhawatiran baru terhadap keamanan pelayaran di Selat Hormuz, yang merupakan jalur ekspor utama minyak dan gas dari negara-negara Teluk Persia.
Pengamat energi menilai setiap eskalasi militer di wilayah ini berpotensi mengganggu rantai pasokan energi global serta memicu lonjakan harga minyak dunia.
Dengan posisi strategis Selat Hormuz dalam perdagangan energi internasional, perkembangan situasi di kawasan tersebut kini menjadi sorotan pasar global dan para pelaku industri energi.
Baca berita internasional terbaru lainnya hanya di
https://JurnalLugas.Com
(HD)






