JurnalLugas.Com — Kunjungan Presiden Kolombia Gustavo Petro ke Amerika Serikat memicu sorotan internasional setelah ia melontarkan kritik tajam terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Dalam pernyataannya di hadapan publik, Petro bahkan meminta Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk tidak menjalin kedekatan politik dengan pemimpin Israel tersebut.
Pernyataan tersebut disampaikan Petro saat menghadiri upacara pemakaman tokoh hak sipil Amerika, Jesse Jackson Sr., di Chicago, Illinois. Dalam pidatonya, Petro menyampaikan kritik keras terhadap kebijakan militer Israel yang menurutnya telah menimbulkan dampak kemanusiaan serius.
Kritik Petro: Hubungan AS–Israel Dinilai “Toksik”
Dalam pidato tersebut, Petro menyinggung serangan rudal Israel yang disebutnya telah menargetkan wilayah sipil, termasuk anak-anak. Ia menilai tindakan tersebut membuat Netanyahu tidak pantas dijadikan mitra oleh para pemimpin dunia.
Petro menyebut hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Israel saat ini berada dalam kondisi yang ia sebut “sangat toksik”.
Petro menegaskan bahwa pemimpin yang membiarkan kekerasan terhadap warga sipil tidak layak dijadikan sekutu oleh negara mana pun.
Ia juga menyampaikan kekhawatiran bahwa konflik yang terus meningkat di kawasan Timur Tengah dapat berdampak luas secara global. Menurut Petro, eskalasi serangan militer berpotensi mengancam stabilitas internasional, termasuk keamanan negaranya, Kolombia.
Petro Pernah Ikut Demonstrasi Protes Gaza
Sikap keras Petro terhadap kebijakan Israel sebenarnya bukan hal baru. Sebelumnya, ia pernah hadir dalam aksi demonstrasi di New York City yang mengecam operasi militer Israel di Gaza Strip.
Dalam aksi tersebut, Petro secara terbuka mengkritik kebijakan pemerintah Amerika Serikat yang dinilai memberikan dukungan terhadap operasi militer Israel. Bahkan, ia sempat menyerukan agar tentara Amerika tidak mengikuti kebijakan yang menurutnya memperburuk situasi kemanusiaan di Gaza.
Pernyataan kontroversial itu memicu respons keras dari United States Department of State. Pemerintah Amerika Serikat kemudian mengambil langkah dengan mencabut visa Petro setelah keterlibatannya dalam aksi protes tersebut.
Hubungan Petro dan Trump Memanas
Ketegangan ini menandai babak baru dalam hubungan antara Petro dan Trump. Padahal, pada awal tahun ini kedua pemimpin sempat menunjukkan hubungan yang lebih positif setelah melakukan pertemuan bilateral.
Saat itu, Trump bahkan sempat memuji Petro sebagai pemimpin yang luar biasa. Namun, kritik terbuka yang kembali dilontarkan Petro di Amerika Serikat membuat hubungan politik keduanya kembali memanas.
Situasi ini memperlihatkan bagaimana isu konflik Timur Tengah tidak hanya memengaruhi kawasan tersebut, tetapi juga berdampak pada dinamika diplomasi global, termasuk hubungan antara pemimpin negara di benua Amerika.
Baca berita internasional lainnya di https://JurnalLugas.com.
(TR)






