JurnalLugas.Com — Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah serangan drone menghantam pusat operasi taktis militer AS di Kuwait pada tahap awal konflik kedua negara. Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan puluhan personel militer Amerika mengalami luka serius.
Laporan yang dipublikasikan pada Rabu (11/3/2026) menyebutkan bahwa para tentara mengalami berbagai jenis cedera berat, mulai dari trauma otak, luka bakar hingga luka akibat serpihan ledakan. Bahkan, setidaknya satu personel militer dilaporkan harus menjalani amputasi akibat parahnya luka yang diderita.
Sumber yang mengetahui situasi tersebut menyebutkan bahwa hingga Selasa lebih dari 30 personel militer masih menjalani perawatan intensif di sejumlah fasilitas medis militer.
Salah satu korban dilaporkan dirawat di Brooke Army Medical Center. Sementara itu, 12 personel lainnya menjalani perawatan di Walter Reed National Military Medical Center yang berada di dekat Washington.
Di sisi lain, sekitar 25 tentara Amerika dirawat di Landstuhl Regional Medical Center, salah satu rumah sakit militer terbesar milik AS di luar negeri.
Evakuasi medis besar-besaran juga dilakukan terhadap korban luka. Sekitar 20 tentara diterbangkan ke Jerman menggunakan pesawat militer jenis Boeing C-17 Globemaster III karena kondisi cedera yang dinilai mendesak.
Sumber militer menyebutkan sejumlah korban mengalami kondisi serius seperti gegar otak, kehilangan ingatan sementara, hingga cedera otak traumatis yang membutuhkan penanganan jangka panjang.
Pada tahap awal setelah serangan terjadi, Pentagon sempat menyampaikan bahwa hanya lima personel militer yang mengalami luka serius. Sementara beberapa lainnya dilaporkan mengalami luka ringan akibat serpihan ledakan dan gegar otak.
Namun perkembangan terbaru menunjukkan jumlah korban luka jauh lebih besar dari laporan awal. Juru bicara Pentagon, Sean Parnell, mengungkapkan bahwa sejak konflik dengan Iran dimulai, total sekitar 140 personel militer Amerika Serikat telah mengalami luka-luka.
Menurut Parnell, sebagian besar tentara yang terluka sudah kembali menjalankan tugas mereka. Meski demikian, masih terdapat delapan personel yang mengalami cedera berat dan kini menjalani perawatan medis lanjutan.
Serangan drone tersebut memperlihatkan meningkatnya intensitas konflik antara Iran dan Amerika Serikat, sekaligus menyoroti risiko besar yang dihadapi pasukan militer di kawasan Timur Tengah.
Situasi keamanan regional pun kini menjadi sorotan internasional, mengingat eskalasi konflik berpotensi meluas dan memicu ketegangan geopolitik yang lebih besar.
Baca berita lengkap lainnya di https://JurnalLugas.Com.
(PJ)






