Prabowo Targetkan 100 GW Tenaga Surya 2 Tahun, Listrik Diesel Siap Dihapus

JurnalLugas.Com – Presiden Prabowo Subianto menetapkan target besar dalam transformasi energi nasional. Pemerintah membidik kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) mencapai 100 gigawatt (GW) dalam waktu maksimal dua tahun, sebuah langkah yang dinilai sebagai lompatan strategis menuju kemandirian energi.

Saat ini, Indonesia telah memiliki kemampuan produksi tenaga surya domestik sekitar 11 GW. Namun, angka tersebut dinilai masih jauh dari potensi yang bisa dikembangkan, terutama di tengah dorongan global menuju energi bersih.

Bacaan Lainnya

Presiden menegaskan bahwa keputusan ini merupakan arah kebijakan politik yang harus segera diwujudkan. Ia menyebut percepatan pengembangan energi surya menjadi prioritas utama pemerintah.

“Target ini bukan sekadar wacana. Dalam waktu sesingkat mungkin, paling lambat dua tahun, kita harus sudah mencapai 100 GW tenaga surya,” ujar Presiden dalam pernyataannya, Kamis (19/3/2026).

Diesel Dinilai Boros, Siap Dihentikan

Selain mempercepat pengembangan energi baru terbarukan, pemerintah juga berencana menghentikan penggunaan pembangkit listrik tenaga diesel yang saat ini masih menyumbang sekitar 13 GW.

Baca Juga  Trump Kirim Surat ke Prabowo Ancam Tarif 32% untuk Produk Indonesia Mulai Agustus

Menurut Presiden, penggunaan diesel tidak lagi ekonomis dan membebani anggaran negara. Oleh karena itu, seluruh kapasitas tersebut akan segera digantikan dengan sumber energi yang lebih efisien dan ramah lingkungan.

“Pembangkit diesel itu mahal dan tidak efisien. Dalam waktu dekat kita targetkan 13 GW bisa digantikan. Ke depan, kita tidak lagi bergantung pada diesel,” tegasnya.

Langkah ini diyakini akan menjadi salah satu strategi utama dalam menekan biaya energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Dorong Kendaraan Listrik, Biaya Lebih Hemat

Transformasi energi juga akan diperkuat melalui percepatan penggunaan kendaraan listrik di berbagai sektor. Pemerintah berencana mendorong konversi kendaraan berbahan bakar fosil, mulai dari sepeda motor, mobil pribadi, hingga kendaraan berat seperti truk dan traktor.

Dalam simulasi yang telah dilakukan, penggunaan kendaraan listrik terbukti mampu menekan pengeluaran masyarakat secara signifikan.

Presiden menyampaikan bahwa pengguna motor listrik dapat menghemat hingga sekitar 20 persen biaya operasional dibandingkan kendaraan berbahan bakar konvensional.

“Ini bisa menjadi game changer. Pengeluaran pengguna motor listrik bisa turun sekitar seperlima. Ini peluang besar untuk efisiensi ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Baca Juga  Prabowo Bersih-Bersih Kabinet Relawan Jokowi Dibuang

Sementara itu, bagi kalangan mampu yang tetap ingin menggunakan kendaraan berbahan bakar fosil premium, pemerintah tidak akan membatasi, namun dengan harga mengikuti pasar global.

Menuju Kemandirian Energi Nasional

Kebijakan ini menjadi bagian dari visi besar pemerintah dalam menciptakan sistem energi yang mandiri, efisien, dan berkelanjutan. Dengan memaksimalkan potensi tenaga surya serta mengurangi ketergantungan pada diesel dan bahan bakar fosil, Indonesia diharapkan mampu memperkuat ketahanan energi sekaligus mendukung agenda transisi hijau.

Langkah agresif ini juga membuka peluang investasi besar di sektor energi terbarukan serta menciptakan lapangan kerja baru di berbagai lini industri pendukung.

Dengan target ambisius tersebut, pemerintah optimistis Indonesia dapat menjadi salah satu pemain utama dalam pengembangan energi bersih di kawasan.

Baca selengkapnya berita energi dan kebijakan nasional lainnya di https://JurnalLugas.com

(SF)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait