IRGC Hantam Israel dengan 100 Rudal Saat Netanyahu Passover

JurnalLugas.Com — Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memasuki fase kritis setelah pernyataan tajam dari Komandan Angkatan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Majid Mousavi, yang secara terbuka menyindir Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.

Pernyataan tersebut disampaikan melalui platform X pada Rabu, 1 April 2026, dengan menggunakan bahasa Ibrani sebuah langkah yang dinilai sebagai pesan langsung kepada publik Israel.

Bacaan Lainnya

Dalam unggahannya, Mousavi menggambarkan kondisi mencekam yang dirasakan warga Israel di tengah perayaan Passover. Ia menyinggung suara sirene yang tak henti berbunyi serta situasi warga yang harus berlindung di bunker sempit.

“Sirene yang terus berbunyi dan guncangan di dalam bunker sempit dan gelap menjadi ‘hadiah liburan’ Netanyahu bagi warga Zionis,” ujarnya singkat.

Operasi Militer Memanas, Iran Luncurkan Gelombang Serangan Besar

Konflik ini sendiri telah memanas sejak akhir Februari, ketika Israel bersama Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap target di Iran. Sebagai balasan, Teheran mengaktifkan operasi militer bertajuk Operation True Promise 4.

Dalam perkembangan terbaru, IRGC mengklaim telah meluncurkan gelombang ke-89 serangan berskala besar. Lebih dari 100 rudal berat, ratusan drone, serta sekitar 200 roket dikerahkan secara simultan ke sejumlah target strategis.

Target utama disebut berada di kota-kota penting Israel seperti Tel Aviv, Eilat, dan Bnei Brak, serta beberapa titik yang berkaitan dengan kepentingan militer Amerika Serikat di kawasan Asia Barat.

Sumber lokal melaporkan adanya korban di pihak Israel, meskipun jumlah pasti belum dikonfirmasi secara independen. Situasi ini memperlihatkan eskalasi signifikan dalam konflik yang kini melibatkan kekuatan militer besar di kawasan.

IRGC dalam pernyataan resminya menegaskan bahwa operasi ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang dan tidak akan berhenti dalam waktu dekat.

“Serangan akan terus berlanjut hingga pihak lawan mengalami kekalahan total,” demikian pernyataan singkat yang dirilis.

Penggunaan bahasa Ibrani oleh Mousavi serta momentum perayaan keagamaan menunjukkan bahwa serangan ini tidak hanya bersifat militer, tetapi juga psikologis. Iran tampaknya ingin menunjukkan bahwa tekanan tidak hanya terjadi di medan perang, tetapi juga menyasar stabilitas sosial warga sipil Israel.

Di sisi lain, pernyataan ini juga mempertegas bahwa konflik telah bergeser dari sekadar aksi balasan menjadi strategi tekanan berlapis yang berpotensi memperluas eskalasi regional.

Dengan intensitas serangan yang terus meningkat dan retorika yang semakin tajam, situasi di Timur Tengah kini berada di titik rawan yang dapat memicu konflik lebih luas jika tidak segera diredam melalui jalur diplomasi.

Baca selengkapnya berita geopolitik dan analisis global hanya di JurnalLugas.Com

(TJ)

Tombol Google News - JurnalLugas
Baca Juga  Zionis Terkutuk Israel Gempur Iran Ilmuwan Nuklir hingga Komandan IRGC Dilaporkan Tewas

Pos terkait