Johan Palmberg World Gold CouncilEmas Anjlok 12%, Sinyal Kenaikan Global

JurnalLugas.Com – Pasar komoditas logam mulia kembali menjadi sorotan setelah lembaga riset global World Gold Council memproyeksikan potensi penguatan harga emas pada periode mendatang. Proyeksi ini muncul setelah emas mengalami koreksi tajam sekitar 12 persen pada Maret 2026, dengan posisi harga turun ke kisaran 4.608 dolar AS per troy ons.

Koreksi tersebut tercatat sebagai salah satu penurunan terdalam dalam lebih dari satu dekade terakhir, menandai perubahan signifikan dalam dinamika pasar emas global yang selama ini cenderung stabil sebagai aset lindung nilai.

Bacaan Lainnya

Koreksi Tajam dan Tekanan Likuiditas Global

Senior Quantitative Analyst World Gold Council, Johan Palmberg, menilai pelemahan harga emas pada Maret dipicu oleh kombinasi tekanan pasar yang cukup kompleks. Salah satu faktor utama adalah aksi jual besar-besaran dari investor ritel yang sebelumnya memiliki eksposur tinggi terhadap emas.

Arus keluar dari produk Exchange Traded Fund (ETF) emas global tercatat mencapai sekitar 12 miliar dolar AS, atau setara dengan 84 ton emas, dalam satu bulan. Kondisi ini menunjukkan adanya pergeseran sementara sentimen investor dari aset aman menuju kebutuhan likuiditas jangka pendek.

Dalam pernyataannya, Johan menyebut bahwa pasar sebenarnya mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan, meskipun masih dibayangi risiko jangka pendek.

“Mulai terlihat indikasi pemulihan tren positif, namun tekanan likuiditas dan aktivitas deleveraging masih menjadi faktor yang perlu diperhatikan,” ungkapnya dalam pernyataan yang disampaikan pada Selasa, 14 April 2026.

Baca Juga  Kemarin Harga Emas Dunia Melonjak 1,55 persen Hari ini Turun Tipis Investor Mikir Data Inflasi AS Kazakhstan Turki China Borong Emas

Peran Bank Sentral dan Efek Psikologis Pasar

Selain tekanan dari investor ritel, pasar emas juga dipengaruhi oleh spekulasi terkait potensi aksi jual dari bank sentral global. Kekhawatiran ini mencuat setelah adanya langkah dari Central Bank of the Republic of Turkey yang dilaporkan menggunakan sebagian cadangan emas sebagai agunan.

Kondisi tersebut memicu interpretasi pasar bahwa institusi moneter dapat meningkatkan aktivitas likuidasi emas jika tekanan ekonomi global meningkat. Walaupun belum ada bukti adanya penjualan besar-besaran oleh bank sentral lain, sentimen ini cukup memengaruhi volatilitas harga emas dalam jangka pendek.

Awal April Jadi Titik Balik Sementara

Memasuki awal April 2026, sejumlah indikator menunjukkan adanya stabilisasi harga emas. Salah satunya adalah melemahnya dolar AS yang gagal mempertahankan penguatan di level tertinggi sebelumnya. Kondisi ini secara historis memberi ruang bagi penguatan harga emas karena hubungan terbalik antara keduanya.

Selain itu, aliran dana ke ETF emas kembali menunjukkan tren positif di beberapa kawasan. Permintaan terhadap aset lindung nilai juga tetap kuat, terutama dari investor yang mencari perlindungan terhadap ketidakpastian global.

“Minat dari pengelola aset, investor ritel, hingga permintaan fisik mulai terlihat kembali seiring harga yang lebih stabil,” ujar Johan dalam keterangannya.

Risiko Global Masih Membayangi Pasar Emas

Meski terdapat peluang penguatan, analis menilai pasar emas belum sepenuhnya keluar dari fase volatilitas. Risiko geopolitik masih menjadi faktor dominan yang dapat mengubah arah harga secara cepat.

Baca Juga  Harga Emas Dunia Naik Tipis Pasar Menanti Data Inflasi PCE AS Investor Tunggu Kebijakan Moneter Federal Reserve (The Fed)

Salah satu skenario yang diwaspadai adalah jika ketegangan di Timur Tengah memicu lonjakan harga minyak dunia hingga bertahan di atas 100 dolar AS per barel dalam jangka panjang. Kondisi tersebut berpotensi mendorong tekanan inflasi global sekaligus meningkatkan kebutuhan likuiditas di berbagai sektor keuangan.

Dalam situasi seperti itu, pasar berisiko mengalami gelombang deleveraging lanjutan, kenaikan tajam imbal hasil obligasi, hingga pergerakan besar pada aset lindung nilai termasuk emas.

Emas Masih Jadi Aset Strategis, Tapi Penuh Dinamika

Secara keseluruhan, prospek emas sepanjang 2026 masih berada dalam fase ketidakpastian tinggi. Di satu sisi, fundamental jangka panjang seperti inflasi, geopolitik, dan permintaan bank sentral tetap mendukung harga emas. Namun di sisi lain, tekanan likuiditas dan perubahan cepat sentimen pasar membuat pergerakan harga sangat sensitif.

Dengan kondisi ini, emas tetap dipandang sebagai aset strategis, tetapi bukan tanpa risiko volatilitas jangka pendek yang signifikan.

Pasar kini menanti arah lanjutan dari arus dana ETF, kebijakan bank sentral global, serta perkembangan geopolitik yang akan menjadi penentu utama tren harga emas dalam beberapa bulan ke depan.

Baca berita lainnya JurnalLugas.Com

(ED)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait