Harga Solar Vivo Meroket, Diesel Primus Tembus Rp30 Ribu per Liter

JurnalLugas.Com — Kenaikan tajam harga bahan bakar kembali mengguncang pasar energi domestik. Kali ini, jaringan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Vivo secara resmi mengerek harga solar jenis Diesel Primus ke level yang jauh lebih tinggi, menandai tekanan serius dari dinamika global terhadap sektor energi nasional.

Mulai 1 Mei 2026, harga Diesel Primus ditetapkan sebesar Rp30.890 per liter. Angka ini melonjak drastis dibandingkan posisi sebelumnya yang masih berada di kisaran Rp14.610 per liter pada awal Maret lalu. Kenaikan signifikan ini menjadi salah satu lonjakan harga BBM non-subsidi paling mencolok dalam beberapa bulan terakhir.

Bacaan Lainnya

Manajemen SPBU Vivo dalam pernyataan resminya menyebutkan bahwa penyesuaian harga dilakukan dengan mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia serta biaya distribusi yang terus meningkat. “Penetapan harga mengikuti tren global dan kondisi pasar energi yang fluktuatif,” ujar perwakilan manajemen secara.

Baca Juga  Mulai 1 Juli 2025 Harga BBM Pertamina Naik Lagi Pertamax Turbo Dexlite Terkini

Tak hanya Diesel Primus, varian Diesel Primus Plus juga mengalami penyesuaian dengan angka yang sama, memperkuat sinyal bahwa segmen bahan bakar diesel tengah menghadapi tekanan berat dari sisi pasokan dan harga internasional.

Sementara itu, produk bensin dengan oktan lebih tinggi seperti Revvo 92 justru tidak mengalami perubahan harga. Hingga awal Mei 2026, Revvo 92 tetap dipatok Rp12.390 per liter, menunjukkan adanya stabilitas relatif di segmen bahan bakar gasoline meskipun situasi geopolitik dunia masih memanas.

Pengamat energi menilai lonjakan harga solar ini tidak bisa dilepaskan dari konflik geopolitik yang terus berlangsung, termasuk ketegangan di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Konflik yang telah berjalan selama dua bulan tersebut berdampak langsung pada rantai pasok minyak global.

“Pasar diesel memang lebih sensitif terhadap gangguan suplai global. Ketika jalur distribusi terganggu atau produksi tertekan, harga bisa melonjak lebih cepat dibandingkan bensin,” ungkap seorang analis energi, menyoroti perbedaan karakter pasar antara solar dan bensin.

Baca Juga  Harga BBM Shell Naik, Stok Masih Langka di Sejumlah SPBU

Di sisi lain, kenaikan ini berpotensi menekan sektor logistik dan industri yang sangat bergantung pada bahan bakar diesel. Biaya operasional yang meningkat dikhawatirkan akan berdampak pada harga barang dan distribusi di tingkat konsumen.

Fenomena ini juga membuka kembali diskusi soal ketahanan energi nasional dan ketergantungan terhadap dinamika global. Dalam kondisi seperti ini, pelaku industri dan pemerintah dituntut untuk mencari strategi jangka panjang guna meredam gejolak harga yang berulang.

Dengan lonjakan harga yang terjadi dalam waktu singkat, masyarakat dan pelaku usaha diimbau untuk lebih cermat dalam mengelola konsumsi energi, sembari menunggu stabilisasi pasar global yang hingga kini masih diliputi ketidakpastian.

Untuk informasi dan berita ekonomi lainnya, kunjungi https://JurnalLugas.Com

(ED)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait