JurnalLugas.Com — Penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) atau gas alam terkompresi semakin populer di berbagai negara, termasuk Indonesia. Bahan bakar alternatif ini dikenal lebih murah dibanding BBM konvensional serta disebut lebih ramah lingkungan karena menghasilkan emisi lebih rendah.
Namun di balik berbagai keunggulan tersebut, penggunaan gas CNG tetap menyimpan risiko serius apabila tidak ditangani dengan standar keamanan yang ketat.
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah insiden ledakan tabung gas kendaraan hingga kebocoran instalasi CNG menjadi perhatian publik. Kondisi ini memunculkan pertanyaan penting mengenai tingkat keamanan penggunaan CNG, baik untuk kendaraan pribadi, transportasi umum, hingga kebutuhan industri.
Apa Itu Gas CNG?
CNG merupakan gas alam yang sebagian besar terdiri dari metana dan disimpan dalam tekanan sangat tinggi, biasanya mencapai 200 hingga 250 bar. Gas ini digunakan sebagai bahan bakar kendaraan maupun kebutuhan industri karena dianggap lebih ekonomis.
Meski demikian, tekanan tinggi tersebut menjadi faktor utama yang membuat CNG memiliki potensi bahaya jika sistem penyimpanan dan distribusinya mengalami gangguan.
Risiko Kebocoran yang Bisa Memicu Ledakan
Salah satu bahaya terbesar dari penggunaan gas CNG adalah kebocoran. Gas metana sangat mudah terbakar ketika bercampur dengan udara dalam kadar tertentu. Jika terjadi percikan api kecil dari sistem kelistrikan kendaraan atau sumber panas lainnya, kebocoran tersebut dapat memicu ledakan besar.
Pakar keselamatan energi, Budi Santoso, mengatakan penggunaan CNG sebenarnya aman selama mengikuti standar teknis yang berlaku.
“Masalah muncul ketika tabung tidak dirawat, regulator rusak, atau instalasi dilakukan secara tidak sesuai prosedur,” ujarnya.
Kebocoran gas sering kali sulit dideteksi secara cepat karena CNG tidak selalu memiliki bau menyengat seperti LPG rumah tangga. Dalam ruang tertutup, akumulasi gas dapat meningkatkan risiko kebakaran besar.
Tabung Bertekanan Tinggi Jadi Titik Kritis
Tabung penyimpanan CNG dirancang untuk menahan tekanan sangat tinggi. Namun usia pakai, korosi, hingga benturan keras dapat menurunkan kekuatan material tabung.
Apabila tabung mengalami kerusakan dan tetap digunakan, risiko ledakan meningkat drastis. Ledakan tabung CNG tidak hanya merusak kendaraan, tetapi juga berpotensi menimbulkan korban jiwa.
Pengamat otomotif dan keselamatan transportasi, Darman Hidayat, menilai pemeriksaan berkala masih sering diabaikan pengguna kendaraan berbahan bakar gas.
“Banyak pengguna fokus pada biaya murahnya, tetapi lupa bahwa tabung CNG punya masa uji dan standar keamanan yang wajib dipenuhi,” katanya.
Instalasi Tidak Standar Memicu Bahaya
Selain kondisi tabung, proses pemasangan sistem CNG juga menjadi faktor penting. Instalasi yang dilakukan oleh teknisi tidak bersertifikat dapat menyebabkan kebocoran pada selang, regulator, atau sambungan pipa gas.
Di beberapa kasus, modifikasi kendaraan berbahan bakar gas dilakukan tanpa pengawasan resmi demi menekan biaya. Padahal kesalahan kecil dalam pemasangan dapat berdampak fatal.
Penggunaan komponen palsu atau tidak sesuai spesifikasi juga meningkatkan potensi kecelakaan.
Risiko di Area Tertutup dan Parkiran Basement
Gas metana memiliki karakteristik mudah menyebar di udara. Namun pada area tertutup dengan ventilasi buruk, gas dapat terakumulasi dan menciptakan kondisi berbahaya.
Karena itu, sejumlah gedung parkir bawah tanah di berbagai negara menerapkan aturan ketat terhadap kendaraan berbahan bakar gas. Sistem ventilasi dan sensor kebocoran menjadi perangkat wajib untuk meminimalkan risiko ledakan.
Tetap Aman Jika Mengikuti Standar
Meski memiliki sejumlah risiko, penggunaan CNG sebenarnya tetap dapat aman apabila memenuhi standar keselamatan. Pemeriksaan rutin tabung, penggantian komponen sesuai jadwal, serta pemasangan oleh teknisi bersertifikat menjadi langkah utama pencegahan.
Pengguna kendaraan CNG juga disarankan segera melakukan pemeriksaan jika mencium bau gas, mendengar suara mendesis, atau menemukan penurunan performa sistem bahan bakar.
Selain itu, pemerintah dan operator SPBG perlu memperketat pengawasan terhadap kualitas tabung serta kelayakan instalasi kendaraan berbahan bakar gas.
Di tengah tren energi alternatif dan upaya menekan emisi kendaraan, penggunaan CNG diperkirakan masih akan berkembang. Namun faktor keselamatan harus menjadi prioritas utama agar efisiensi biaya tidak berubah menjadi ancaman serius bagi pengguna dan masyarakat sekitar.
Baca berita dan informasi lainnya di JurnalLugas.Com
(Wening)






