Laba Lippo Karawaci Anjlok 36 Persen, Penjualan Rumah Tapak Jadi Penyelamat

JurnalLugas.Com — Perusahaan properti PT Lippo Karawaci Tbk menghadapi tekanan kinerja pada awal 2026 seiring perlambatan pendapatan dan laba bersih. Meski demikian, penjualan rumah tapak dan penguatan arus kas menjadi sinyal bahwa permintaan sektor hunian masih bergerak positif di tengah kondisi pasar yang belum sepenuhnya pulih.

Pada kuartal pertama 2026, emiten berkode LPKR tersebut membukukan pendapatan sebesar Rp1,76 triliun. Angka itu turun sekitar 12,6 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan juga terjadi pada laba bersih yang terkoreksi menjadi Rp107 miliar atau melemah lebih dari 36 persen secara tahunan.

Bacaan Lainnya

Di sisi lain, perusahaan masih mampu menjaga performa operasional melalui peningkatan arus kas. Aktivitas operasi menghasilkan arus kas Rp499 miliar atau tumbuh sekitar 20 persen, didorong kenaikan penerimaan dari pelanggan dan transaksi penjualan proyek residensial. Posisi kas perusahaan hingga akhir kuartal tercatat mencapai Rp1,62 triliun.

CEO John Riady menegaskan bahwa pasar rumah tapak tetap menjadi motor utama penjualan perseroan. Menurutnya, permintaan paling besar masih datang dari segmen hunian terjangkau hingga menengah yang menyasar pembeli rumah pertama.

Baca Juga  IHSG Lemes Sentimen Pasar Berfluktuasi

“Permintaan rumah tapak masih sangat kuat, terutama di segmen terjangkau dan menengah. Fokus kami tetap pada pengembangan township dan pengelolaan bisnis yang disiplin,” ujarnya dalam keterangan perusahaan.

Kinerja prapenjualan atau marketing sales pada kuartal pertama tercatat mencapai Rp1,95 triliun, setara sekitar 32 persen dari target tahunan perusahaan. Kontribusi terbesar berasal dari produk rumah tapak yang menyumbang sekitar 84 persen dari total marketing sales.

Tingginya minat pasar tersebut didukung peluncuran sejumlah proyek baru seperti Park Serpong Phase 7 dan Neo 5ense Collection di kawasan Cikarang. Produk-produk baru itu menyasar pasar hunian massal hingga kelas menengah dengan harga yang dinilai masih kompetitif di tengah kenaikan biaya hidup masyarakat.

Perseroan juga mencatat kontribusi signifikan dari penjualan residensial di tingkat holding yang mencapai Rp1,22 triliun. Selain itu, penjualan unit komersial menyumbang Rp156 miliar, penjualan kavling tanah Rp30 miliar, serta penjualan lahan pemakaman San Diego Hills sebesar Rp33 miliar.

Momentum penjualan semakin kuat setelah perusahaan memperkenalkan beberapa tipe hunian baru di Park Serpong, mulai dari Goldtops hingga Treetops. Strategi menghadirkan produk dengan harga lebih terjangkau dinilai berhasil menarik minat konsumen end-user yang masih mendominasi pasar properti nasional.

Baca Juga  IHSG Dibuka Menguat Begitu juga Indeks LQ45 Ikut Terdongkrak

Tidak hanya sektor residensial, segmen lifestyle perusahaan juga masih menunjukkan ketahanan. Pada kuartal pertama 2026, lini bisnis tersebut mencatat pendapatan Rp310 miliar dengan laba bersih Rp55 miliar. Efisiensi operasional disebut menjadi salah satu faktor penopang kinerja di tengah perlambatan daya beli masyarakat.

Aktivitas pusat perbelanjaan milik perusahaan pun mulai kembali ramai. Jumlah kunjungan mal meningkat sekitar 6 persen menjadi 11,5 juta pengunjung per bulan. Sementara itu, tarif rata-rata hotel tetap stabil di kisaran Rp639 ribu per malam, menandakan sektor ritel dan hospitality perlahan mengalami pemulihan.

Analis menilai pasar properti nasional saat ini masih akan bertumpu pada segmen rumah tapak dan hunian terjangkau. Stabilitas suku bunga serta kebutuhan rumah pertama dinilai menjadi faktor yang menjaga permintaan tetap tumbuh meski kondisi ekonomi global belum sepenuhnya stabil.

Baca berita ekonomi dan properti terbaru lainnya di JurnalLugas.Com

(Endarto)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait