JurnalLugas.Com — Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini ditutup dengan tekanan pada sejumlah emiten berkapitalisasi kecil hingga saham kelompok energi dan teknologi. Aksi ambil untung investor membuat beberapa saham terjerembab dalam daftar top loser dengan koreksi dua digit.
Data perdagangan menunjukkan, saham PT Ricky Putra Globalindo Tbk (RICY) memimpin pelemahan setelah terkoreksi tajam bersama sederet emiten lain seperti ABDA, HALO, ARGO, hingga TPIA. Penurunan harga saham pada kelompok ini bergerak dalam rentang 8,83 persen sampai 11,90 persen.
Tekanan jual paling besar terlihat pada saham-saham yang sebelumnya sempat mengalami penguatan signifikan dalam beberapa sesi terakhir. Kondisi itu memicu investor melakukan profit taking di tengah pergerakan pasar yang cenderung fluktuatif.
Selain RICY, saham PT Asuransi Bina Dana Arta Tbk (ABDA) dan PT Haloni Jane Tbk (HALO) juga masuk dalam daftar saham dengan pelemahan terdalam. Sementara saham PT Argo Pantes Tbk (ARGO) serta PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) ikut terseret ke zona merah hingga penutupan perdagangan.
Deretan top loser hari ini juga diisi oleh saham NINE, LUCY, HBAT, ESSA, dan COIN. Pelemahan mayoritas saham tersebut mencerminkan tingginya tekanan jual pada sektor tertentu, terutama saham dengan volatilitas tinggi.
Di tengah tekanan pada sejumlah emiten, aktivitas transaksi pasar justru tetap ramai. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi pemimpin top value dengan nilai transaksi mencapai Rp1,46 triliun.
Posisi berikutnya ditempati PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang mencatatkan transaksi sekitar Rp1,40 triliun. Tingginya nilai transaksi pada saham grup Prajogo Pangestu menunjukkan minat investor masih cukup besar terhadap saham-saham konglomerasi energi dan petrokimia.
Sementara itu, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) berada di posisi ketiga dengan nilai transaksi Rp1,20 triliun. Disusul PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar Rp1,02 triliun dan PT Petrosea Tbk (PTRO) dengan nilai transaksi mencapai Rp865 miliar.
Analis pasar modal menilai saham perbankan besar masih menjadi pilihan utama investor karena dinilai memiliki fundamental kuat dan likuiditas tinggi di tengah dinamika pasar saham domestik.
“Investor masih cenderung mencari saham dengan kinerja stabil dan valuasi yang dianggap aman, terutama sektor perbankan,” ujar seorang analis pasar modal dalam keterangannya.
Menariknya, dari lima saham dengan nilai transaksi terbesar tersebut, hanya BBCA, BMRI, dan BBRI yang berhasil menutup perdagangan di zona hijau. Sementara BRPT dan PTRO justru berakhir melemah hingga menyeret sentimen pada saham-saham afiliasi grup energi.
Kondisi ini menunjukkan pelaku pasar masih selektif dalam menempatkan dana, terutama pada saham yang telah mengalami reli cukup tinggi dalam beberapa waktu terakhir.
Pergerakan IHSG ke depan diperkirakan masih akan dibayangi aksi rotasi sektor dan sentimen global, termasuk arah suku bunga serta pergerakan harga komoditas dunia yang memengaruhi aliran dana investor asing.
Baca berita ekonomi dan pasar modal lainnya di JurnalLugas.Com
(Endarto)






