JurnalLugas.Com — Kementerian Pertanian Republik Indonesia memastikan produksi dan ketersediaan beras nasional tetap dalam kondisi aman meski ancaman El Nino diperkirakan memicu musim kering ekstrem pada pertengahan 2026.
Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, mengatakan pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah antisipasi sejak awal tahun setelah menerima peringatan dini dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika atau BMKG terkait potensi kekeringan panjang.
“Saat ini fokus utama pemerintah adalah menjaga agar produksi pangan, khususnya beras, tidak mengalami penurunan,” ujar Sudaryono dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah di Jakarta, Senin 25 Mei 2026.
Menurutnya, pemerintah bergerak cepat memperkuat infrastruktur air untuk sektor pertanian melalui program pompanisasi, pipanisasi, hingga pembangunan sumur bor di sejumlah wilayah sentra produksi pangan.
Langkah tersebut dilakukan agar lahan pertanian tetap dapat ditanami meskipun curah hujan mulai berkurang akibat dampak El Nino.
Selain menjaga pasokan air, Kementerian Pertanian juga mempercepat peningkatan indeks pertanaman atau IP guna mendorong frekuensi tanam dan panen petani dalam setahun.
Pemerintah menargetkan indeks pertanaman nasional mendekati IP200, yakni dua kali tanam dan dua kali panen dalam satu tahun.
Sudaryono menyebut rata-rata panen nasional saat ini masih berada di bawah dua kali panen per tahun sehingga produktivitas lahan perlu terus ditingkatkan agar ketahanan pangan tetap terjaga.
“Kami ingin optimalisasi lahan berjalan maksimal sehingga produksi tetap stabil walaupun ada ancaman musim kering,” katanya.
Di tengah kekhawatiran potensi penurunan produksi akibat El Nino, pemerintah juga memastikan cadangan beras nasional dalam kondisi kuat untuk menghadapi skenario terburuk.
Sudaryono mengungkapkan stok beras yang tersimpan di gudang Perum Bulog saat ini mencapai sekitar 5,3 juta ton.
Jumlah tersebut belum termasuk potensi produksi atau standing crop hampir 12 juta ton dan stok beras yang masih tersimpan di masyarakat sekitar 12 juta ton.
Jika seluruh cadangan itu dihitung, total stok beras nasional diperkirakan mencapai sekitar 28 juta ton.
“Dengan kebutuhan konsumsi bulanan saat ini, stok tersebut diperkirakan mampu menopang kebutuhan nasional hingga sekitar 10,8 bulan,” ujar Sudaryono.
Pemerintah optimistis kondisi tersebut cukup untuk menghadapi potensi El Nino yang diprediksi berlangsung sekitar enam bulan.
Meski demikian, pemerintah tetap meminta seluruh daerah meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak perubahan iklim yang dapat memengaruhi produksi pangan dan ketersediaan air pertanian.
Pengamat pertanian menilai langkah antisipasi sejak dini menjadi faktor penting agar Indonesia tidak mengalami gejolak harga pangan seperti yang pernah terjadi saat musim kering panjang di tahun-tahun sebelumnya.
Selain menjaga produksi, penguatan cadangan beras nasional juga dinilai penting untuk menahan lonjakan harga di pasar ketika pasokan mulai terganggu akibat cuaca ekstrem.
Kementerian Pertanian berharap kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, petani, hingga lembaga pangan dapat menjaga stabilitas pangan nasional sepanjang 2026.
Baca berita ekonomi dan pangan lainnya di JurnalLugas.Com
(Endarto)






