Jurnallugas.Com – Dunia kesehatan internasional kembali menyoroti penyebaran virus Ebola galur Bundibugyo yang kini menjadi ancaman serius di kawasan Afrika Tengah. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa jenis virus tersebut memiliki tingkat fatalitas yang sangat tinggi, sehingga memerlukan respons cepat dari berbagai negara.
Dalam perkembangan terbaru, WHO mengungkapkan bahwa wabah Ebola Bundibugyo yang saat ini terdeteksi di Republik Demokratik Kongo (RDK) berpotensi menyebabkan kematian hingga separuh dari total pasien yang terinfeksi.
Pejabat teknis Program Kedaruratan Kesehatan WHO, Anais Legand, menjelaskan bahwa pengalaman dari sejumlah wabah sebelumnya menunjukkan tingkat kematian akibat galur Bundibugyo berkisar antara 30 hingga 50 persen.
“Data historis menunjukkan risiko kematian yang sangat tinggi pada kasus terkonfirmasi,” ujar Legand dalam keterangan yang disampaikan di Jenewa.
Pernyataan tersebut mempertegas kekhawatiran komunitas kesehatan global karena virus Ebola dikenal mampu menyebar cepat melalui kontak langsung dengan cairan tubuh penderita yang terinfeksi.
Pengembangan Vaksin Masih Berlangsung
Di tengah peningkatan kasus, WHO juga mengumumkan perkembangan sejumlah kandidat vaksin yang diharapkan dapat membantu mengendalikan penyebaran penyakit mematikan tersebut.
Salah satu kandidat yang dinilai paling menjanjikan adalah vaksin rekombinan dosis tunggal rVSV Bundibugyo yang tengah dikembangkan oleh International AIDS Vaccine Initiative (IAVI). Vaksin ini dirancang khusus untuk memberikan perlindungan terhadap galur Bundibugyo yang saat ini menjadi sumber wabah.
Namun demikian, WHO memperkirakan proses pengembangan hingga vaksin siap digunakan secara luas masih membutuhkan waktu antara tujuh hingga sembilan bulan.
Selain itu, terdapat kandidat vaksin lain bernama ChAdOx1 Bundibugyo yang dikembangkan melalui kolaborasi Universitas Oxford dan Serum Institute of India. Kandidat ini diperkirakan dapat memasuki tahap evaluasi efektivitas dalam waktu dua hingga tiga bulan mendatang melalui uji klinis.
Kasus Masih Berpotensi Bertambah
WHO menilai situasi wabah masih sangat dinamis. Hingga akhir Mei, otoritas kesehatan mencatat 125 kasus Ebola yang telah terkonfirmasi, termasuk 17 korban meninggal dunia yang tersebar di 13 zona kesehatan di Republik Demokratik Kongo.
Meski demikian, para ahli memperkirakan jumlah kasus sebenarnya bisa lebih tinggi karena proses pelacakan kontak dan pemeriksaan laboratorium terus diperluas ke berbagai wilayah terdampak.
Peningkatan kapasitas pengujian memungkinkan lebih banyak kasus ditemukan dalam beberapa pekan ke depan, sehingga tren epidemi belum dapat dipastikan telah mencapai puncaknya.
“Masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa penyebaran wabah sudah mulai melambat,” kata Legand.
Status Darurat dan Kekhawatiran Internasional
WHO telah menetapkan wabah Ebola yang terjadi di Republik Demokratik Kongo dan Uganda sebagai situasi darurat kesehatan dengan risiko penyebaran lintas negara.
Meski demikian, badan kesehatan PBB tersebut belum merekomendasikan pembatasan perjalanan maupun perdagangan internasional. Sebagai langkah mitigasi, negara-negara terdampak tetap diwajibkan melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap seluruh pelaku perjalanan yang keluar dari wilayah mereka.
Kekhawatiran juga mulai muncul di Eropa. Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, menyerukan peningkatan koordinasi pengawasan perbatasan Uni Eropa guna mengantisipasi kemungkinan penyebaran penyakit ke benua tersebut.
Berdasarkan data WHO, hingga saat ini terdapat 906 kasus suspek Ebola yang sedang dipantau, dengan total 223 kematian yang telah dilaporkan. Angka tersebut menunjukkan bahwa wabah masih menjadi ancaman serius bagi sistem kesehatan di kawasan terdampak.
Para ahli kesehatan mengingatkan bahwa deteksi dini, pelacakan kontak, isolasi pasien, serta percepatan pengembangan vaksin menjadi kunci utama untuk menekan laju penyebaran virus Ebola Bundibugyo dalam beberapa bulan mendatang.
Sumber berita menarik lainnya dapat dibaca di JurnalLugas.Com.
(Dahlan)






