JurnalLugas.Com – Indonesia semakin percaya diri memasuki pasar pangan regional setelah rencana ekspor beras ke Malaysia memasuki tahap pembahasan teknis. Pemerintah melalui Perum Bulog menegaskan bahwa harga beras yang akan dikirim ke negeri jiran tidak akan dilepas murah, melainkan dirancang untuk memberikan nilai tambah bagi petani sekaligus meningkatkan pemasukan negara.
Langkah tersebut menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia kini tidak hanya fokus menjaga ketahanan pangan dalam negeri, tetapi juga mulai memanfaatkan surplus produksi untuk memperkuat posisi sebagai pemasok beras di kawasan Asia Tenggara.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan kebijakan harga ekspor mengikuti arahan Presiden Prabowo Subianto yang menginginkan setiap komoditas pangan yang dijual ke luar negeri mampu memberikan keuntungan maksimal bagi petani dan perekonomian nasional.
“Harga ekspor harus memberikan manfaat bagi petani dan negara,” ujarnya singkat.
Harga Ekspor Diproyeksikan Lampaui Rp16.000 per Kilogram
Dalam pembahasan awal dengan pihak Malaysia, angka yang sempat muncul berada di kisaran Rp16.000 per kilogram. Namun Bulog memberi sinyal bahwa harga final berpotensi berada di atas nilai tersebut.
Kenaikan harga ekspor dinilai penting untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan perdagangan internasional dan kesejahteraan petani yang selama ini menjadi tulang punggung produksi pangan nasional.
Analis sektor pertanian menilai strategi tersebut dapat menciptakan efek positif berupa peningkatan pendapatan petani sekaligus mendorong semangat produksi di tengah meningkatnya kebutuhan pangan global.
Tim Indonesia Bersiap Bertolak ke Sarawak
Usai momentum Idul Adha 2026, Bulog bersama tim dari Kementerian Pertanian dijadwalkan melakukan kunjungan ke Sarawak, Malaysia.
Pertemuan tersebut bertujuan mematangkan berbagai aspek kerja sama, mulai dari volume kebutuhan beras Malaysia hingga penetapan harga akhir yang akan disepakati kedua negara.
Selain menentukan jumlah pasokan, kedua pihak juga akan membahas skema perdagangan yang dianggap paling efisien dan menguntungkan.
Skema Pengiriman Masih Dibahas
Salah satu poin yang masih menjadi pembahasan adalah mekanisme distribusi beras dari Indonesia menuju Malaysia.
Pemerintah membuka beberapa opsi, termasuk pengiriman langsung dari pelabuhan Indonesia ke pelabuhan tujuan di Malaysia atau pembelian langsung oleh pihak Malaysia di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.
Pemilihan mekanisme distribusi dinilai akan memengaruhi biaya logistik, kecepatan pengiriman, serta efisiensi perdagangan secara keseluruhan.
Karena itu, keputusan final akan diambil setelah kedua negara menyelesaikan seluruh pembahasan teknis.
Pemerintah Ingin Dapatkan Harga Terbaik
Sebelum kontrak ekspor dijalankan secara resmi, Bulog masih akan berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Kementerian Pertanian dan Badan Pangan Nasional.
Tujuannya adalah memastikan harga yang disepakati benar-benar memberikan keuntungan optimal bagi Indonesia tanpa mengurangi daya saing produk di pasar internasional.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak ingin tergesa-gesa dalam mengambil keputusan, melainkan memastikan setiap aspek perdagangan telah diperhitungkan secara matang.
Momentum Baru Perdagangan Pangan Nasional
Rencana ekspor beras ke Malaysia menjadi salah satu indikator meningkatnya kapasitas produksi pangan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Jika berhasil terealisasi, kerja sama ini tidak hanya membuka pasar baru bagi beras nasional, tetapi juga memperkuat citra Indonesia sebagai negara yang mampu memenuhi kebutuhan domestik sekaligus memasok pasar regional.
Keberhasilan ekspor juga berpotensi meningkatkan devisa negara, memperluas jaringan perdagangan pangan, serta menciptakan nilai tambah bagi sektor pertanian yang selama ini menjadi penopang ekonomi masyarakat pedesaan.
Prabowo Bilang Jangan Jual Murah
Komitmen menjaga harga ekspor sempat disampaikan langsung Presiden Prabowo Subianto dalam sebuah agenda nasional beberapa waktu lalu.
Di hadapan para pelaku sektor pangan, Presiden mengingatkan agar beras Indonesia yang masuk pasar internasional tidak dijual dengan harga rendah yang dapat merugikan petani maupun negara.
Pesan tersebut menjadi dasar bagi Bulog dalam menyusun strategi perdagangan sehingga ekspor beras tidak hanya mengejar volume penjualan, tetapi juga keuntungan yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Dengan produksi yang terus meningkat dan pasar regional yang masih terbuka luas, peluang Indonesia menjadi pemain penting dalam perdagangan beras Asia Tenggara kini semakin besar. Tantangan berikutnya adalah memastikan ekspor berjalan berkelanjutan tanpa mengganggu stabilitas pasokan dan harga di dalam negeri.
Baca berita ekonomi, pertanian, dan kebijakan pangan terbaru hanya di JurnalLugas.Com.
(Soefriyanto)






