JurnalLugas.Com – Malam yang seharusnya menjadi perjalanan pulang biasa berubah menjadi tragedi bagi sebuah keluarga di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.
Sambaran petir saat hujan deras mengguyur kawasan Nagori Bandar Betsy I, Kecamatan Bandar Huluan, menyebabkan seorang ibu muda meninggal dunia dan suaminya mengalami kondisi kritis.
Peristiwa itu terjadi saat sebuah keluarga beranggotakan lima orang sedang dalam perjalanan kembali ke rumah usai bersilaturahmi dengan kerabat. Cuaca yang semula mendung berubah menjadi hujan lebat disertai aktivitas petir yang cukup intens.
Demi menghindari hujan, keluarga tersebut memilih berhenti dan mencari tempat untuk berteduh di pinggir jalan. Namun keputusan yang diambil untuk menghindari cuaca buruk justru berujung petaka ketika petir menyambar area tempat mereka berlindung.
Korban meninggal diketahui merupakan seorang ibu muda berusia 30 tahun. Sementara sang suami mengalami luka serius akibat sambaran listrik bertegangan tinggi dan hingga kini masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Di tengah situasi yang penuh kepanikan, muncul kisah keberanian dari anak sulung keluarga tersebut yang masih berusia 11 tahun. Saat melihat kedua orang tuanya terkapar usai tersambar petir, bocah itu tidak larut dalam ketakutan.
Dengan kondisi malam yang gelap dan hujan yang belum reda, ia berlari menuju permukiman warga untuk meminta pertolongan. Jarak yang ditempuh diperkirakan mencapai ratusan meter.
Aksi cepat bocah tersebut menjadi faktor penting dalam proses penyelamatan. Warga yang menerima laporan segera menuju lokasi dan mengevakuasi para korban ke fasilitas kesehatan terdekat.
Kepolisian yang menerima informasi kejadian juga langsung melakukan pendataan dan membantu proses penanganan. Tiga anak korban lainnya dilaporkan selamat dan saat ini berada dalam pengawasan keluarga besar.
Kasi Humas Polres Simalungun, AKP Verry Purba, menyampaikan rasa belasungkawa atas musibah yang menimpa keluarga tersebut.
“Kami turut berduka atas kejadian ini. Semoga korban yang meninggal mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan dan korban yang masih dirawat segera pulih,” ujarnya.
Peristiwa ini kembali menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan saat cuaca ekstrem melanda. Sambaran petir dapat terjadi secara tiba-tiba, terutama di area terbuka, perkebunan, lapangan, maupun lokasi yang minim perlindungan.
Para ahli cuaca mengimbau masyarakat untuk segera mencari bangunan yang aman ketika terdengar suara guntur. Penggunaan perangkat elektronik di area terbuka saat badai juga sebaiknya diminimalkan untuk mengurangi risiko saat aktivitas petir meningkat.
Musibah di Bandar Huluan tidak hanya menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban, tetapi juga menghadirkan pelajaran berharga tentang pentingnya keselamatan saat menghadapi cuaca buruk.
Baca berita dan informasi terkini lainnya di JurnalLugas.Com.
(Bowo)






