JurnalLugas.Com – Pergerakan harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) kembali menghadapi tekanan pada penutupan perdagangan akhir pekan.
Pelemahan harga minyak kedelai di pasar global menjadi faktor utama yang menahan laju komoditas sawit, meskipun permintaan ekspor dari Malaysia masih menunjukkan tren positif.
Bagi pelaku industri sawit, kondisi ini menjadi sinyal bahwa dinamika harga CPO masih sangat dipengaruhi perkembangan pasar minyak nabati dunia. Di sisi lain, permintaan ekspor yang tetap solid dinilai mampu mencegah koreksi harga menjadi lebih dalam.
Pada perdagangan Jumat (31/7/2026), kontrak acuan CPO untuk pengiriman Oktober di Bursa Malaysia Derivatives ditutup turun 0,88 persen ke level 4.642 ringgit Malaysia per ton.
Penurunan tersebut sekaligus mengakhiri tren penguatan yang sempat bertahan selama tiga pekan berturut-turut. Secara mingguan, kontrak CPO terkoreksi 1,69 persen.
Meski demikian, kinerja bulanan masih menunjukkan hasil positif. Sepanjang Juli 2026, harga CPO tetap membukukan kenaikan 2,11 persen, menandai penguatan bulanan kedua secara beruntun.
Pelaku pasar menilai tekanan terbesar datang dari pelemahan harga minyak kedelai yang selama ini menjadi salah satu acuan utama dalam perdagangan minyak nabati global.
David Ng, proprietary trader dari Iceberg X Sdn Bhd di Kuala Lumpur, mengatakan pergerakan kontrak CPO mengikuti arah pasar minyak kedelai yang melemah selama sesi perdagangan Asia.
“Tekanan berasal dari penurunan pasar minyak kedelai, namun ekspor yang tetap kuat mampu membatasi pelemahan harga,” ujarnya.
Data dari perusahaan survei kargo menunjukkan ekspor produk minyak sawit Malaysia sepanjang Juli meningkat cukup signifikan. Dibandingkan bulan sebelumnya, volume pengiriman diperkirakan naik antara 12,1 persen hingga 19,5 persen.
Peningkatan ekspor tersebut memberikan sentimen positif karena menunjukkan permintaan internasional terhadap produk sawit Malaysia masih bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Di pasar komoditas lainnya, kontrak minyak kedelai paling aktif di Bursa Dalian turun 0,06 persen, sedangkan kontrak minyak sawit Dalian melemah 0,84 persen.
Tekanan yang lebih besar terjadi di Amerika Serikat. Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) tercatat turun 1,17 persen, memperkuat sentimen negatif terhadap pasar minyak nabati.
Selama ini, harga CPO memiliki keterkaitan erat dengan minyak kedelai karena keduanya bersaing sebagai bahan baku utama minyak nabati di pasar internasional.
Ketika harga minyak kedelai melemah, harga minyak sawit umumnya ikut tertekan karena adanya penyesuaian permintaan dari pelaku industri.
Selain dipengaruhi pasar minyak nabati, harga CPO juga mendapat tekanan dari penurunan harga minyak mentah dunia.
Harga minyak global tercatat turun lebih dari satu persen setelah pasokan kembali mengalir melalui jalur pelayaran strategis. Kondisi tersebut terjadi meskipun pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran belum menghasilkan kesepakatan baru.
Turunnya harga minyak mentah turut mengurangi daya tarik CPO sebagai bahan baku biodiesel karena selisih biaya produksi menjadi kurang kompetitif dibandingkan bahan bakar berbasis fosil.
Di sisi mata uang, ringgit Malaysia melemah sekitar 0,2 persen terhadap dolar Amerika Serikat.
Pelemahan nilai tukar tersebut justru memberi keuntungan tersendiri bagi eksportir Malaysia. Harga CPO menjadi relatif lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing sehingga berpotensi meningkatkan daya saing ekspor.
Sementara itu, dari Indonesia, pemerintah menetapkan penyesuaian harga referensi CPO untuk periode Agustus 2026.
Berdasarkan ketentuan Kementerian Perdagangan, harga referensi CPO diturunkan menjadi USD996,52 per ton, lebih rendah dibandingkan posisi Juli yang berada di level USD1.000,90 per ton.
Penyesuaian harga referensi tersebut menjadi salah satu indikator penting dalam penentuan besaran pungutan ekspor dan kebijakan perdagangan sawit nasional.
Pelaku industri memperkirakan arah pergerakan harga CPO dalam beberapa pekan mendatang masih akan dipengaruhi sejumlah faktor utama, mulai dari perkembangan ekspor Malaysia dan Indonesia, dinamika harga minyak kedelai, perubahan harga minyak mentah dunia, hingga pergerakan nilai tukar mata uang di kawasan Asia.
Apabila permintaan global tetap kuat, tekanan harga diperkirakan dapat mereda. Namun jika pelemahan minyak nabati pesaing berlanjut dan harga energi dunia terus terkoreksi, ruang penguatan CPO diperkirakan masih terbatas.
Bagi Indonesia sebagai produsen sekaligus eksportir minyak sawit terbesar di dunia, stabilitas harga CPO menjadi faktor penting karena berdampak langsung terhadap penerimaan devisa negara, pendapatan petani sawit, hingga industri hilir berbasis kelapa sawit.
Ikuti berita ekonomi, komoditas, ekspor, dan perkembangan pasar global terbaru hanya di JurnalLugas.Com: https://jurnallugas.com
(William)






